Persiapkan Normal Baru Pendidikan, Kemdikbud Bikin Aplikasi Baru

0

JAKARTA (Suara Karya): Persiapan normal baru dalam dunia pendidikan, prioritas pada keamanan, kesehatan dan keselamatan siswa. Meski ada di zona hijau, jika lingkungan sekolah tak aman dari penyebaran corona virus disease (covid-19), maka sekolah tidak boleh dibuka.

“Menutup sekolah tak berarti siswa diliburkan. Pilihannya tetap belajar dari rumah, baik secara daring, luring atau campuran. Yang penting, orientasi pembelajaran fokus pada siswa,” kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Iwan Syahril dalam acara diskusi pendidikan yang digelar Tanoto Foundation, Kamis (3/6/20).

Pembicara lain dalam diskusi bertajuk ‘Sinergi Pusat dan Daerah untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar’, antara lain Direktur Program Pendidikan Dasar Tanoto Foundation, M Ari Widowati, Wakil Bupati Kendal, Masrur Masykur dan Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara, Emy Rosana Saleh.

Diskusi juga diikuti perwakilan dari 21 kabupaten/kota mitra Tanoto Foundation. Mereka saling berbagi pengalaman seputar praktik baik dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh dan persiapan normal baru dalam dunia pendidikan.

Iwan meminta sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara benar. Tak sekadar memindahkan pembelajaran tatap muka dari ruang kelas ke rumah siswa melalui teknologi. Siswa harus difasilitasi agar aktif belajar, bukan berpusat pada guru.

“Sekarang tidak ada tuntutan yang kuat bagi siswa untuk ikut ujian. Ini menjadi kesempatan bagi guru dan kepala sekolah untuk membuat inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan belajar siswa. Itulah yang dimaksud dalam Merdeka Belajar,” katanya.

Ditambahkan, Kemdikbud saat ini tengah mengembangkan aplikasi pendidikan yang dapat membantu siswa belajar lebih baik. Aplikasi itu sangat mudah penggunaannya seperti halnya aplikasi Gojek atau Tokopedia.

“Kami ingin akselerasi pemanfaatan aplikasi dapat dipercepat, agar siswa bisa memanfaatkan selama belajar dari rumah di masa pandemi covid-19,” ucap Iwan seraya menyebut pentingnya sinergi dalam menyebarkan praktik-praktik baik di dunia pendidikan.

Direktur Program Pendidikan Dasar Tanoto Foundation, M Ari Widowati memaparkan persiapan normal baru dalam dunia pendidikan, merujuk pada hasil survey kepada guru, kepala sekolah, orangtua dan siswa dari 454 sekolah dan madrasah mitra.

“Salah satu temuan menarik adalah 48.3 persen siswa mengaku senang belajar di rumah, karena proses pembelajaran jadi lebih menarik, variasi dan bermakna. Namun, masih ada 46.8 persen siswa yang mengaku belajar di rumah tak menyenangkan, karena guru terlalu banyak memberi tugas.

Di masa pandemi, Tanoto Foundation tetap melatih dan mendampingi para guru, kepala sekolah, pengawas.dan dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK). Materi yang diberikan disesuaikan materinya dengan konteks pembelajaran berbasis teknologi, daring dan luring.

“Konsep pelatihan kami adalah pembelajaran dengan menerapkan unsur MIKiR atau mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Diharapkan, siswa bisa aktif dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ),” kata Ari.

Wakil Bupati Kendal, Masrur Masykur menyebut kerja sama dengan Tanoto Foundation memberi dampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di daerahnya. Di masa pandemi, kerja sama dikembangkan dengan membuat inovasi layanan PJJ yang disebut Kendal Pintar Berbagi.

“Kami mengerahkan 129 guru penggerak untuk memastikan para guru di sekolah dapat memberi layanan pembelajaran jarak jauh secara daring dan luring. Mereka membuat lembar kerja yang dapat membuat siswa belajar aktif. Para siswa juga belajar daring melalui live streaming YouTube yang digelar rutin,” tuturnya.

Hal serupa juga dikembangkan Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara. Seperti dikatakan Emy Rosana, mereka mengembangkan pembelajaran jarak jauh dengan membuat fitur kelas online dalam portal berbama Kukar PINTAR dan Kukar Cerdas.
“Para guru penggerak difasilitasi dalam mengembangkan beragam video dan praktik baik pembelajaran MIKiR untuk menjadi contoh dan diterapkan para guru lainnya,” kata Emy menandaskan. (Tri Wahyuni)