Pertahankan Eksistensi, Penerbit harus Kreatif

0

JAKARTA (Suara Karya): Penerbit harus kreatif dalam mempertahankan eksistensinya menerbitkan buku-buku yang menjadi andalan untuk penjualan. Kreativitas jadi kunci untuk terus menerbitkan buku, sehingga dunia perbukuan Indonesia tetap maju di tengah persaingan melawan digitalisasi di berbagai bidang.

“Memang situasi perbukuan nasional cukup berat, termasuk buku-buku perguruan tinggi. Meski demikian, kita terus mencari terobosan-terobosan baru sehingga mampu bertahan,” ujar Manajer Marketing Group Prenada Media, Endah M, dalam perbincangan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat – Akademi Televisi Indonesia (LPPM-ATVI), pekan ini.

Dalam perbincangan yang ditayangkan di kanal Youtube LPPM ATVI ini, Endah menjelaskan, pihaknya mendatangi kampus-kampus di seluruh Indonesia, untuk menemui para dosen yang juga penulis, mendatangi kementerian, lembaga–lembaga negara, BUMN, maupun perorangan yang akan menulis buku. “Dengan ‘jemput bola’ kita akan mendapat naskah bagus, juga peluang kerja sama penerbitan,” katanya.

Ketika buku dari dosen suatu perguruan tinggi, biasanya peluncuran atau bedah buku dilakukan di kampus tersebut sehingga civitas akademika kampus mengetahui adanya penerbitan suatu buku yang dibutuhkan bukan hanya di kampus bersangkutan tapi juga kampus lain di Indonesia, misalnya buku komunikasi, hukum, sosial, dan tema lainnya.

“Pada acara tersebut kami menggelar pameran kecil dan mengadakan penjualan langsung dengan potongan harga atau diskon, baik bagi dosen maupun mahasiswa.

Diakui Endah M yang sudah lebih 25 tahun bergelut di dunia penerbitan buku, beberapa tahun ini, terutama ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia dan Indonesia juga terdampak, maka penerbitan buku merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak. Situasi ini ditambah dengan berkembangnya internet dan digitalisasi yang membuat penerbtan buku cetak sangat terdampak.

“Ada celah yaitu penerbitan melalui flatfoms digital atau e-book, tapi potensinya masih kecil,” katanya.

Lebih lanjut dikemukakan Endah, event-event pameran buku berskala besar juga sangat bermanfaat buat penerbit untuk mempromosikan buku-bukunya, misalnya Islamic Book Fair (IBF) yang memang serig ditunggu-tunggu pencinta buku Tanah Air.

“Pemeran IBF atau Islamic Book Fair sangat bagus, Karena animo pengunjung yang besar dari berbagai kalangan, berdampak sangat positif pada penjualan, disamping kita promosikan buku-buku baru,” ungkat Endah yang juga Pengurus IKAPI ini.

Endah mengaku bersyukur, sebab Group Prenada Media masih terus menerbitkan buku-buku teks perguruan tinggi yang dibutuhkan masyarakat, khususnya kalangan perguruan tinggi, sehingga ikut membantu proses peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

“Buku kami, baik di bidang ekonomi, komunikasi, hukum, dan bidang lain, sering jadi bahan bacaan wajib. Kami senang sekali,” ungkapnya.

Namun demikian, kegalauan tidak bias dipungkiri dalam menghadapi naik-turunnya penjualan buku yang diterbitkan Prenada, terutama soal pembajakan.

“Pembajakan buku walau bagaimana pun akan merusak rantai proses penerbitan dan penjualan buku, sementara mereka para pelaku pembajakan buku dengan seenaknya mengambil jalan pintas untuk kepentingan keuntungan mereka.” kata Endah sambil mengusulkan pihak yang berwenangan agar terus mengupayakan pemberantasan pembajakan buku.

Untuk menghadapi pembajakan itu, kata Endah pihaknya mengambil berbagai cara, misalnya memberi diskon harga yang bagus kepada mahasiswa dan dosen. Selain it terus mengkampanyekan bahwa membeli buku bajakan merusak dan membahayakan dunia perbukuan Indonesia.

Pengalaman 25 Tahun

Saking asyiknya terjun dalam dunia perbukuan, tak terasa, Endah sudah merasakan suka dukanya bekerja di dunia penerbitan. Meskipun bidang perbukuan ini sejak awal tidak terkait dengan latar belakang pendidikannya yang mengambil keahlian sebagai sekretaris.

“Pada saat saya kuliah dan butuh untuk kelencaran biaya, ada pekerjaan di bidang perbukuan. Meski dunia penerbitan itu adalah bukan keinginan karena kuliah yang saya geluti itu bidangnya jauh beda gitu . Tapi karena kebutuhan hidup untuk kuliah dan tidak ada dana ya mau tidak mau kan harus kerja . Pada saat itu yang ada lowongan di dunia penerbitan, namanya penerbit Rajawali Pers,” ungkap Endah dan akhirnya hingga kini tak beranjak dari dunia penerbitan.

Diungkapkan Endah, banyak kesenangan ternyata di dunia penerbitan. Dirinya banyak kenal dan belajar para penulis yang kebanyakan dosen dan praktisi. “Mereka semua orang yang pandai, jadi saya pun banyak mengambil ilmu dari mereka para penulis,” katanya.

Dukanya pasti ada lanjut Endah. Paling sering, para penulis merasa buku yang diterbitkannya itu laris manis dan kurang percaya dengan laporan penjualan yang kita buat.”Tapi dengan penjelasan dan memberikan data penjulan, kahirnya penulis itu mengerti,” katanya. (Pramuji)