Pertamina Regional Kalimantan Jadikan TPA Manggar Sumber Energi Bersih

0

JAKARTA (Suara Karya): Pertamina Regional Kalimantan Zona 8, bersama masyarakat Balikpapan komitmen mengoptimalkan tempat pembuangan akhir (TPA) Manggar sebagai sumber energi bersih untuk pemenuhan kebutuhan energi masyarakat Balikpapan, Kalimantan Timur. Potensi gas metananya diperkirakan mencapai 2,2 juta metrik ton per tahun.

Head of Communication Relations & CID Zona 8, Frans Alexander Hukom mengatakan, sebenarnya ada beberapa program sosial yang dijalani yaitu petani maju 4.0, juragan sampah dan Waste to Energy for Community (Wasteco).  Program Wasteco dilakukan di wilayah tempat pembuangan akhir (TPA) Manggar, Balikpapan. TPA Manggar menjadi TPA terbaik ke 2 se Indonesia dalam kategori waste to energy ini mempunyai volume sampah 132 ribu ton per tahunnya.

Pihaknya juga membentuk satu kelompok pengelola gas metana sebanyak 26 orang yang bertugas untuk menjaga persediaan gas. Dengan program Wasteco, kini telah membangun 6.640 meter pipa gas metana dan gas tersebut sudah dimanfaatkan oleh 200 rumah disekitar lokasi TPA.

“Dari program tersebut, banyak penghematan yang tercipta misalnya iuran gas Rp33,6 juta pertahun, penghematan tabung elpiji sebanyak 7.200 tabung gas elpiji 3 kg per tahun, dan menghemat biaya penerangan jalan sebesar Rp15 juta pertahun dan Rp180 juta per tahun biaya penghematan memasak keluarga,” kata Frans, Selasa (26/4/2022).

Sementara itu, Officer Communication Relations & CID Zona 10 Regional Kalimantan Asih Soenarsih mengatakan, memanfaatkan limbah minyak jelantah yang jumlahnya banyak lalu dimanfaatkan untuk jadi energi biodiesel.

Menurut Asih, tahun 2018 setidaknya ada 10 liter per hari limbah minyak jelantah yang dibuang. Ketika dibuang ke selokan dan tanah maka akan berdampak pada pencemaran air dan tanah yang nantinya akan berdampak pada kesehatan.

“Maka dari itu, minyak jelantah tersebut diubah menjadi biodiesel sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya,” kata Asih.

Program energi baru terbarukan (EBT) yakni mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel di Kelurahan Kampung Enam Tarakan itu dipimpin oleh warga sekitar yakni Sardji Sarwan.

Sebanyak 5 liter minyak jelantah dijual Rp13 ribu atau ditukar 1 liter minyak goreng. Program CSR dibutuhkan pendampingan supaya tetap sustainable.

“Tetap harus kita pantau untuk kontinuitas. Kita terus memberikan motivasi kepada mitra binaan. Untuk tetap semangat mensosialisasikan. Jangan pernah berhenti melakukan inovasi dalam hal apa pun. (Bayu)