Perubahan Generasi Penikmat Kopi di Zaman Now

0
Alvin saat mengolah kopi. (Suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia saat ini memiliki potensi besar bagi komoditas kopi, karena Indonesia merupakan negara dengan posisi kelima besar di daftar negara produsen kopi terbesar dunia, setidaknya hal itu tercatat pada musim tanam 2016-2017.

Mengingat, saat ini kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia, sehingga peminum kopi kini sudah beralih pola yang tidak hanya sekedar untuk dikonsumsi (diminum). Tetapi sudah memperhatikan segala aspek mulai dari asal daerah, varietas dan spesiesnya, proses pasca panen, tingkatan sangrai, sampai metode penyeduhan.

Perubahan pola peminum kopi ini, mulai berkembang di kalangan anak muda di zaman now karena ketertarikan untuk mengulik setiap rasa dan aroma yang bervariasi dari setiap variabel tersebut.

Mereka umumnya meminum kopi murni dan tanpa gula, memaksimalkan potensi rasa dari kopi tersebut. Pada generasi ini peminumnya mengedepankan prinsip kopi untuk diapresiasi.

Semula, para menjual kopi di Indonesia, tidak menyebut asal negara. Para penjual kopi hanya menyebut nama daerah, seperti kopi Gayo, kopi Lampung atau kopi Mandailing.

Namun belakangan, label Indonesia mulai banyak disematkan, sehingga semakin banyak pencinta kopi mengetahui bahwa negeri ini menghasilkan kopi-kopi berkualitas.

Karenanya, dalam menggeluiti bisnis kopi, setidaknya harus membagi segmentasi pasar terlebih dahulu untuk mempermudah mengenal istilah first wave, second wave dan thirdwave generation.

First wave adalah peminum kopi dengan konsep kopi hanya sekedar untuk dikonsumsi, karakter rasa kopi yang diminum cenderung lemah, sudah dicampur oleh gula, nabati atau susu dan pada generasi ini minum kopi tidak mau ribet dan praktis, generasi ini adalah peminum kopi sachet

Second wave peminum kopi dengan basic espresso, yaitu metode presurized infusion yang ditemukan oleh orang Italia, karakter kopi cenderung pahit dan kuat dan umumnya dicampur dengan susu panas dan campuran lainnya menghasilkan minuman seperti cafe latte, cafe de au lait, cappuchino, mocchino, machiatto, dan lain-lain konsep para peminum kopi generasi ini adalah kopi untuk di nikmati.

Third wave adalah mereka yang membuat kopi dan memperhatikan segala aspek mulai dari asal daerah, varietas dan spesiesnya, proses pasca panen, tingkatan sangrai, sampai metode penyeduhan.

Istilah yang terkahir ini (third wave), sudah digandrungi oleh kalangan generasi zaman now. Mereka menikmati setiap rasa dan aroma yang bervariasi dari setiap variabel kopi yang ada di Indonesia.

Alvin, manager kedai kopi Teras Cozy, mengemukakan, merintis bisnis kopi di era saat ini, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada berbagai faktor yang berperan dalam mempertahankan bisnis kopi, dalam hal ini adalah kedai kopi.

Tampak pengunjung penikmat kopi kebanyakan kawula muda. (Suarakarya.co.id/Ist)

“Tantangannya, tempat dan momen ketika membuka kedai kopi,” kata Alvin panggilan akrabnya, saat ditanya wartawan suarakarya.co.id, di Teras Cozy, Jalan Meruyung Raya No 8, Depok, Minggu (4/11/2018).

Dia pun memaparkan ketika baru membuat kedai kopi pada 2010, dia terpaksa harus gulung tikar hanya dalam waktu dua tahun. Bukan lokasi yang tidak strategis, tapi momennya yang belum tepat.

“2010-2012 masih tren baru, jadi belum siap menerima (belum banyak yang menikmati) kopi tanpa gula atau kopi dari daerah-daerah di Indonesia, ujar dia.

Kini iklim bisnis kopi yang semakin membaik, lebih banyak varian kopi yang bisa dieksplorasi karena semakin banyak akses untuk bekerjasama dengan para petani kopi.

Karenanya, Alvin menanbahkan, dalam berbisnis kopi, terlebih dahulu harus membagi segmentasi pasar untuk mempermudah mengenal ketiga istilah di atas, yakni first wave, second wave dan thirdwave generation.

“Coffee shop yang baik adalah coffee shop yang bisa mengakomodir peminum yang sesuai dengan ketiga generasi tersebut,” kata Alvin. (Pramuji)