Perubahan Iklim Masih jadi Isu dalam Perdagangan Global

0

JAKARTA (Suara Karya): Perubahan iklim (climate change) akan menjadi salah satu instrumen peraturan dalam sistem perdagangan global. Karena disadari bisnis seharusnya memberi kemakmuran, bukan sekadar keuntungan bagi pengusaha.

“Instrumen lain terkait perjanjian perdagangan. Industri Indonesia yang ingin masuk perdagangan global harus memahami aturan itu,” kata President of Internasional Chamber Of Commerce (ICC) Indonesia, Ilham Akbar Habibie dalam pertemuan Asean Pasific CEO Forum ke-5 di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, Sekjen ICC, John WH Denton dan mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Marie Pangestu.

Sebagai informasi, ICC adalah organisasi bisnis terbesar di dunia. Organisasi yang berpusat di Paris, Perancis itu memiliki anggota lebih dari 45 juta perusahaan yang tersebar di 100 negara. Selain membuat regulasi, ICC juga menyediakan jasa penyelesaian perselisihan bisnis.

Di Indonesia, lanjut Ilham, perusahaan yang bergabung ke ICC belum terlalu banyak, yaitu sekitar 100 perusahaan. Terbanyak datang dari usaha perbankan dan perusahaan umum. Ia berharap, bisnis berbasis digital, termasuk financial technology serta usaha kecil dan menengah (UKM) bergabung ke ICC, karena jangkauan penjualannya yang makin luas.

“Organisasi ICC ini tak hanya diikuti bisnis besar, tetapi juga bisnis skala UKM yang ingin melakukan perdagangan global. Target kami kedepan adalah mengajak bisnis berbasis teknologi dan UKM bergabung di ICC,” tutur putra Presiden Republik Indonesia ke-3, BJ Habibie.

Ditambahkan, pertemuan CEO Forum ICC juga membahas bagaimana bisnis di kawasan Asia Pasifik dapat mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan (SDG’s) yang merupakan agenda PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) tahun 2030 untuk manusia, planet dan kemakmuran.

“Forum CEO ICC adalah kesempatan unik yang mempertemukan para pemimpin Asia Pasifik untuk membahas peluang bisnis di masa depan, investasi dan perdagangan yang dipengaruhi isu-isu global,” ujarnya.

Hal senada dikemukan Marie Pangestu. Perubahan iklim masih menjadi isu dalam perdagangan global karena dampaknya terhadap penduduk miskin. Karena itu, setiap negara diminta untuk menjaga lingkungan agar tidak terjadi kenaikan suhu bumi.

“Tak hanya suhu bumi, sampah plastik juga masuk dalam agenda pembahasan karena kondisinya sudah membahayakan, tak hanya di darat tetapi juga di laut. Harus dibuat peraturan agar urusan sampah ini tidak menjadi kendala di masa depan,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus pembuangan limbah di Kali Citarum yang mendapat perhatian dari pengusaha asing. Mereka menolak membeli produk Indonesia, jika tidak menjaga lingkungan. “Hal-hal semacam inilah yang dibahas dalam pertemuan ICC agar bisa tembus pasar global,” kata Marie menandaskan. (Tri Wahyuni)