Perum Bulog Jamin Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Beras

0
Dirut Bulog, Budi Waseso, meninjau lokasi panen padi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (suarakarya.co.id/Dok: Humas Bulog)

Kemarau panjang yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi hingga Desember 2019. Tentunya, kondisi ini menyebabkan daerah yang menjadi lumbung-lumbung pangan nasional akan mengalami kendala produksi.

Dampaknya, tentu saja harga beras akan mengalami lonjakan yang membebani masyarakat sebagai konsumen.

Namun demikian, pemerintah melalui Perum Bulog menjamin ketersediaan stok beras nasional aman hingga maret 2020. Hal tersebut juga guna menghadapi musim kemarau panjang, serta jatah pendistribusian untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, musim kemarau tahun ini berdasarkan informasi dari BMKG memang terjadi cukup panjang. Dengan demikian,Bulog telah melakukan antisipasi dengan menyiapkan stock beras sebanyak mungkin.

“Hingga saat ini, total stok beras nasional yang terdapat di gudang Bulog seluruh Indonesia ada 2,4 juta ton,” kata Buwas.

Lebih lanjut Buwas mengatakan, jika terjadi kemarau panjang dan tidak ada panen didaerah lumbung padi maka saat ini pihaknya akan melakukan penyerapan besar-besaran dari tingkat petani.

Selain itu, menurut Buwas tidak hanya cukup untuk jika kemarau sampai bulan desember, namun juga cukup untuk memenuhi kebutuhan BPNT yang ada di Indonesia.

Perhitungan tersebut, saat ini stock beras bulog yakni stock beras bulog saat ini ada dengan total 2,4 juta ton beras dan kebutuhan BPNT hingga Desember adalah 700 ribu ton.

“Hitungan kita jika dikurangi BPNT hingga Desember maka akan tersisa 1,7 juta ton dan untuk Januari hingga Maret taruhlah 500 ribu ton masih sisa 1,2 juta ton dan masih aman,” ujarnya.

Gelar Operasi Pasar

Sepertinya, Buwas tidak mau menunggu terjadinya gejolak harga beras di pasaran yang akhirnya meresahkan masyarakat. Dengan cepat, dia menginstruksikan jajarannya untuk menggelar operasi pasar (OP) di berbagai daerah.

Untuk di DKI Jakarta saja, Belum lama ini Buwas melepas 20 truck berisi ratusan ton beras. Ini dilakukan dalam rangka Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH). Peluncuran dilakukan di halaman gedug Bulog yang turut disaksikan oleh seluruh direksi dan karyawan Perum Bulog.

Menurutnya, Perum Bulog telah melaksanakan kegiatan KPSH beras medium secara massive di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun, sebagai implementasi dari Surat Menteri Perdagangan RI kepada Perum Bulog untuk melaksanakan KPSH.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) melepas 20 truck bermuatan beras dari kantor pusat Bulog di Jakarta, Selasa (24/9/2019). Keberangkatan itu dalam rangka operasi pasar (OP)dan menjaga Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH). (suarakarya.co.id/Pramuji)

“Operasi Pasar KPSH kali ini melibatkan seluruh karyawan Perum Bulog, tidak saja staf namun juga Kepala Divisi s.d Kepala Seksi,” ujar Budi Waseso dalam sambutannya. Hal ini merupakan salah satu wujud tindak lanjut program We Are Marketers yang telah diluncurkan beberapa waktu yang lalu.

Ditegaskan Buwas, gerakan operasi pasar (OP) KPSH yang masif, serta dengan keterlibatan para Kepala Divisi Kantor Pusat, dapat membawa semangat baru dalam pelaksanaan operasi pasar KPSH kali ini.

Dengan turun langsung ke lapangan, kita akan mendapat berbagai masukan maupun perspektif baru dalam memasarkan produk-produk Bulog maupun mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat terkait stabilisasi harga pangan.

Operasi pasar KPSH yang diluncurkan pada pagi ini akan menuju 20 pasar di seluruh Jakarta. Selanjutnya Kantor Wilayah Bulog seluruh Indonesia dapat melaksanakan kegiatan KPSH melalui pengecer di pasar tradisional, retail modern, jaringan Sahabat Rumah Pangan Kita (RPK), sinergi BUMN serta Distributor.

Selain itu, Bulog juga memperluas jaringan dan titik distribusi sampai dengan titik kantor kelurahan/desa, pemukiman padat penduduk, maupun warung/toko di tingkat desa.

Untuk diketahui, realisasi pelaksanaan KPSH per tanggal 23 September 2019 sebesar 333.401 ton, dengan rata-rata realisasi per hari 1.126 ton. Khusus DKI, realisasi kegiatan KPSH per tanggal 23 September 2019 mencapai 42.026 ton, dengan rata-rata realisasi per hari 2.159 ton. Kenaikan rata-rata kegiatan KPSH memberikan sinyal bahwa pasar membutuhkan pasokan lebih banyak untuk meredam potensi gejolak harga beras menjelang akhir tahun.

Dari hasil pantauan harga beras IR-64 III di PIBC di tingkat grosir sebesar Rp.9.025/kg, sedangkan pantuan PIHPS untuk harga beras medium II di tingkat eceran sebesar Rp.11.550/Kg,. Hasil pencatatan harga oleh BPS menunjukkan bahwa harga beras secara umum di tingkat konsumen mulai mengalami trend kenaikan walaupun tidak signifikan.

Namun memperhatikan pola pergerakan harga beras tahunan menunjukkan trend kenaikan harga beras sampai akhir tahun, hal ini yang harus diantisipasi dari sekarang melalui kegiatan KPSH yang massive, sehingga kenaikan harga menuju akhir tahun dapat dikendalikan sedari dini.

Teknologi Cocoon

Rupanya, sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menjaga stabilisasi harga pangan nasional, Perum Bulog juga konsisten menjaga kualitas produk yang dijualnya.

Seperti pada beras, di mana banyak isu yang menyudutkan Bulog dengan mengatakan kalau beras yang dijual oleh BUMN ini berkutu dan bau apek.

Untuk menepis isu-isu miring tersebut, Bulog dengan tegas menampiknya melalui teknologi Cocoon. Di mana, teknologi ini diklaim mampu menjaga kualitas beras yang disimpan bertahan hingga berbulan-bulan.

Pembukaan aplikasi “Cocoon” di Gudang Bulog Duyungan, Sub Divre Surakarta, Jawa Tengah. (suarakarya.co.id/Dok; Humas Bulog)

Bertempat di Gudang Duyungan, Perum BULOG Subdivre Surakarta Jawa Tengah, pada jam 09.00 WIB telah dilakukan pembukaan sungkup cocoon atas 180 ton beras yg telah dibeli oleh Perum BULOG pada tahun lalu. Metode penyimpanan ini merupakan salah satu inovasi dari Perum Bulog sebagai bagian dari penugasan untuk menjaga jumlah stok beras yang aman bagi negeri ini.

Sebagai penjaga ketahanan pangan, BULOG terus melakukan inovasi untuk menyediakan pasokan pangan dengan lebih mengutamakan pengadaan dalam negeri, menjaga sejumlah stok tertentu yang selalu tersedia setiap saat di setiap inchi tanah air, dan siap melaksanakan penyediaan pasokan ke setiap lini masyarakat dengan harga yang terjangkau dan stabil.

Cocoon berbentuk bahan semacam plastik yang akan menyungkup beras yang akan dijaga kualitasnya pada waktu tertentu. Metode penyimpanan dengan cocoon ini merupakan cara menyimpan beras dan biji-bijian dengan cara menjaga kadar CO2 pada titik tertentu dan meminimalisir oksigen. Dengan kontrol CO2 dan oksigen yang minimal tidak lagi ada kesempatan bagi hama untuk hidup dan mengganggu atau menurunkan mutu beras.

Penyimpanan dengan cocoon adalah penyimpanan yang ramah lingkungan karena tidak ada lagi perlakuan-perlakuan perawatan dengan menggunakan obat-obatan berbahan baku kimiawi. Apabila dalam penyimpanan konvensional perlu perlakuan spraying dan fumigasi dengan bahan kimia, maka selama tersimpan dalam sungkup plastik cocoon, tidak diperlukan lagi perlakuan tersebut. Dengan demikian Bulog dapat menghemat pemgeluaran biaya perawatan beras secara signifikan

Hasil penyimpanan dengan metode Cocoon selama setahun telah dibuktikan dengan baik dalam pembukaan Cocoon pagi ini di Gudang Duyungan. “Terbukti bahwa penyimpanan dengan metode cocoon ini dapat mempertahankan kualitas beras seperti saat beras tersebut pertama kali disimpan,” kata Direktur Operasional & Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh.

Dikatakan Tri Wahyudi, hama-hama yang biasanya muncul pada bulan kedua atau ketiga saat penyimpanan, terlihat tidak bisa melakukan perkembangbiakan dan bahkan mati. “Jumlah hama yang mati pun, relatif sedikit sekali dan terkumpul dalam setiap pojok sungkup. Sementara kemasan karung pembungkus masih nampak bagus dan rapi seperti semula saat dimasukkan dalam sungkup cocoon,” ujarnya. (***)