Peserta BIPA Melonjak di Masa Pandemi, Bahasa Indonesia Makin Mendunia

0

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi covid-19 ternyata memberi berkah tersendiri bagi Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Di masa pandemi, permintaan untuk membua kelas Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) meningkat secara siginifikan.

“Selama pandemi, permintaan kelas daring untuk BIPA terus berdatang dari banyak negara. Belum lama ini, kita buka kelas di Turki dengan jumlah peserta mencapai 900 orang,” kata Kepala Badan Bahasa, Prof Endang Aminudin Aziz dalam acara Riung Media, Kamis (23/9/21).

Jumlah peserta BIPA dalam satu tahun terakhir ini mencapai 20 ribu orang. Padahal, sejak program tersebut digulirkan oleh Pusat Pengembangan dan Strategi Kebahasaan pada 2015, pesertanya tak lebih dari 10 ribu orang per tahun.

“Sekarang baru 1 tahun sudah mencapai lebih dari 20 ribu peserta. Kelas daring ini memang memudahkan kami dalam proses internasionalisasi bahasa Indonesia. Kita tak perlu mengirim pengajar BIPA ke negara tujuan, sehingga pengelolaannya jadi lebih efisien,” tuturnya.

Sejak 2015, lanjut Prof Aminudin, bahasa Indonesia telah diajarkan di perguruan tinggi di 25-30 negara. Bahkan, jumlah pemelajar BIPA terus bertambah setiap tahunnya. Di Korea Selatan, misalkan, Badan Bahasa melakukan kerja sama dengan Universitas Hanguk untuk kelas bahasa Indonesia.

“Negara yang membuka bisnis dengan Indonesia, umumnya kelas BIPA-nya banyak diminati. Seperti Korea, Jepang, Inggris, Jerman, Irlandia, Turki dan Swiss. Kami juga terbantu oleh keberadaan Atdikbud Indonesia di luar negeri yang banyak membantu kita dalam internasionalisasi bahasa Indonesia,” ujarnya.

Prof Aminudin mengungkapkan, rendahnya literasi di Indonesia bukan karena minat membaca masyarakat yang rendah. Hal itu lebih banyak dipicu oleh keterbatasan akses bahan ajar dan keterbatasan waktu untuk membaca akibat sibuk bekerja.

Karena itu, lanjut Prof Aminudin, pihaknya berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan ajar. Selain menyiapkan buku literasi, Badan Bahasa juga menerjemahkan buku-buku berbahasa asing dari sumber-sumber yang tidak meminta membayar lisensi.

“Jika harus membayar lisensi, Badan Bahasa tak akan sanggup menerjemahkan puluhan ribu buku berbahasa asing. Bahasa asing ini, tak hanya bahasa Inggris, tetapi juga bahasa-bahasa lain di dunia,” katanya.

Mantan Atdikbud London tersebut menyebut, ada 1.375 buku berbahasa asing yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesoa. Selain itu, ada 250 buku berbahasa daerah.

“Kami menargetkan dalam 4 tahun ke depan, jumlah buku terjemahan baik dari bahasa asing maupun bahasa daerah bisa mencapai lebih dari 5.000 judul buku,” ucapnya.

Di samping itu Badan Bahasa juga menyusun buku sendiri dengan target per tahun sebanyak 75 judul buku. Hingga saat ini, tercatat ada 748 judul buku telah disusun Badan Bahasa guna mendukung literasi masyarakat. (Tri Wahyuni)