Peserta Meningkat, Perebutan Kursi SNMPTN Tahun Ini Makin Ketat

0

JAKARTA (Suara Karya): Perebutan kursi mahasiswa baru di jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tampaknya akan berlangsung ketat. Pasalnya, jumlah peserta tahun ini naik hingga 40 persen, sementara kuota kursi di PTN turun sekitar 10 persen.

“Kondisi seperti ini sebenarnya bagus. Karena mereka yang diterima memang berkualitas,” kata Dirjen Pembelajaraan dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ismunandar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/2/2019).

Dijelaskan, penambahan peserta pada jalur SNMPTN terjadi, karena tahun ini tak ada lagi pembatasan akreditasi bagi siswa yang akan mendaftar. Di masa lalu, sekolah dengan akreditasi A mendapat kesempatan lebih besar untuk mendaftar dibanding siswa dari sekolah dengan akreditasi B maupun C.

“Karena C memiliki peluang paling sedikit, maka anak-anak pintar dari sekolah tersebut jadi tak tertampung. Tahun ini tak ada lagi pembatasan semacam itu,” ujarnya.

Ismunandar menambahkan, pemerintah mulai tahun ini juga menurunkan kuota daya tampung pada jalur SNMPTN dari sebelumnya maksimal 30 persen menjadi 20 persen. Pertimbangannya, prestasi mahasiswa jalur SNMPTN tak sebagus jalur Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Ditanya soal tips, Ismunandar meminta agar calon mahasiswa untuk bidang seni dan olahraga untuk tidak lupa mengunggah portofolio prestasi yang sudah diraih selama ini. Hal itu menjadi dasar pertimbangan agar bisa diterima.

“Untuk kelas reguler, boleh memilih maksimal 2 prodi di kampus yang sama atau prodi yang sama di kampus yang berbeda. Prodinya harus satu kelompok, apakah eksakta atau sosial. Tidak boleh beda,” tuturnya.

Dirjen Belmawa juga mengingatkan calon mahasiswa bahwa pelaksanaan SBMPTN atau jalur ujian tulis berbasis komputer tahun ini berbeda. Mereka akan ikut ujian tulis terlebih dahulu, mendapat hasil nilai ujian, baru mendaftar ke kampus tujuan.

“Dengan demikian, calon mahasiswa bisa sadar diri. Cari prodi yang punya peluang tinggi untuk diterima, melihat dari data tahun sebelumnya. Bukan asal suka,” ujarnya.

Ismunandar juga menyarankan agar peserta bersama menunggu hasil SNMPTN diumumkan, baru mendaftar ke jalur SBMPTN. Karena daftar ujian harus membayar sekitar Rp200 ribu per orang. Untuk peserta beasiswa Bidikmisi tidak dipungut biaya.

“Biarkan lulusan angkatan lama yang ikut ujian tulis. Masih ada sekitar 20 pilihan slot waktu yang bisa diikuti peserta lulusan baru. Jadi tidak perlu terburu-buru. Karena pada akhir waktu, akan diumumkan data nilai peserta secara nasional. Dan ada kesempatan untuk membaca prodi apa saja yang memiliki peluang tinggi,” ucapnya menegaskan.

Ketua Panitia SNMPTN-SBMPTN 2019, Ravik Karsidi dalam siaran persnya menjelaskan, pendaftaran SNMPTN dilaksanakan selama 10 hari, pada 4-14 Februari 2019. Hasil seleksi diumumkan pada 23 Maret 2019.

Ia menyebutkan ada kenaikan jumlah siswa dan sekolah yang melakukan pengisian dan verifikasi ke Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) pada SNMPTN 2019 jika dibandingkan tahun lalu. Tercatat tahun ini ada 18.206 sekolah, sedangkan tahun lalu sebanyak 17.889 sekolah.

“Jumlah sekolah yang sudah final bisa ikut SNMPTN 2019 ada 14.888 sekolah, sementara tahun lalu 10.152 sekolah,” katanya.

Tentang jumlah siswanya, Ravik mengemukan, tahun ini ada 2.340.922 siswa yang mengisi di PDSS, sedangkan tahun lalu ada 2.293.513 siswa. Hasil verifikasi menunjukkan ada 955.781 siswa yang berhak ikut SNMPTN, sedangkan tahun lalu hanya 648.104 siswa. (Tri Wahyuni)