PGRI: Rekrutmen PPPK 2021 Tak Pertimbangkan Dedikasi Guru Hononer

0

JAKARTA (Suara Karya): Pelaksanaan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2021 tahap pertama menuai reaksi dari kalangan guru honorer. Rekrutmen tersebut dinilai tak mempertimbangkan pengabdian dan dedikasi para guru honorer.

“Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menerima sekitar 19.752 aduan yang berisikan keluhan, tanggapan, kekecewaan dan masukan dari para guru honorer di seluruh Indonesia,” kata Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi kepada media secara daring, Jumat (24/9/21).

Unifah menilai, penyelesaian pemenuhan kebutuhan guru di satuan pendidikan merupakan prioritas, dengan cara mengangkat tenaga honorer untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal itu merupakan salah satu bentuk kehadiran negara dalam perlindungan, penghargaan dan kesejahteraan kepada guru.

“Penerimaan ASN lewat jalur PPPK untuk mengakomodir masalah guru honorer kategori 2 di atas usia 35 tahun dengan pengabdian yang cukup lama, hingga kini belum terselesaikan prosesnya,” tuturnya.

Unifah menyebut, kendala itu terjadi sejak proses pendaftaran dan seleksi tahap 1 yang berlangsung pada 13-17 September 2021.

Untuk itu, PGRI mengeluarkan 4 pernyataan sikap yang diharapkan dapat mendapat perhatian dari pemerintah. Pertama, PGRI meminta peninjauan ulang kebijakan rekrutmen ASN PPPK tahun 2021 yang tak mempertimbangkan rasa keadilan, pengabdian dan dedikasi guru honorer yang selama ini melaksanakan tugas-tugas pembelajaran dan pelayanan pendidikan dalam situasi darurat kekurangan guru.

“Karena ketersediaan guru merupakan syarat utama agar peserta didik mendapat haknya dalam layanan pendidikan,” ucapnya.

Kedua, Unifah meminta revisi terhadap peraturan rekrutmen PPPK sebagai solusi untuk mengatasi darurat kekurangan guru. Selain itu, manajemen pelaksanaan seleksi ASN PPPK perlu diperbaiki, agar di masa mendatang lebih profesional, transparan dan akuntabel.

“Ketiga, seleksi PPPK guru honorer usia 35 tahun ke atas harus dilakukan melalui proses antarsesama mereka, dengan mempertimbangkan masa pengabdian, dedikasi dan kinerja,” katanya.

Dan yang keempat, rekrutmen bagi guru honorer di daerah 3T harus dilakukan proses seleksi antarsesama guru honorer di daerah tersebut dengan mempertimbangkan masa pengabdian dan dedikasi mereka. (Tri Wahyuni)