PISA 2018 Diumumkan, Indonesia di Peringkat 72 dari 77 Negara

0

JAKARTA (Suara Karya): Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diselenggarakan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan posisi Indonesia di peringkat 72 dari 77 negara.

Hal itu disampaikan Head of The Early Childhood and School Division, Directorate of Education and Skill, OECD, Yuri Belfali di depan penggiat pendidikan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Pemaparan hasil PISA 2018 oleh Yuri Belfali bersamaan dengan perilisan secara resmi oleh Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, di Paris, Perancis pada Selasa (13/12/2019) pukul 09.00 waktu setempat atau pukul 15.00 WIB.

Hadir dalam kesempatan itu, Mendikbud Nadiem Makarim, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud, Totok Suprayitno, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud, Supriano dan Kepala Badan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar.

Hasil laporan PISA 2018 menunjukan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor rata-rata 371, jauh dibawah rata-rata OECD sebesar 487. Skor rata-rata untuk matematika adalah 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Untuk sains, skor rata-rata sebesar 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Laporan OECD juga menunjukkan sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran. Siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran juga terbilang sedikit.

Dalam kemampuan membaca, dikatakan, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 77 persen siswa.

Untuk bidang matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, yang mana rata-rata OECD yakni 76 persen. Dalam tingkatan itu, siswa dikatakan dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis.

Selain itu disebutkan siswa perempuan Indonesia meraih skor lebih tinggi 10 poin dari siswa laki-laki dalam kemampuan matematika. Di negara-negara OECD, siswa laki-laki lebih unggul lima poin dari siswa perempuan dalam kemampuan matematika.

Untuk kemampuan sains, siswa perempuan di Indonesia juga unggul 7 poin dari siswa laki-laki. Rata-rata negara OECD, siswa perempuan hanya unggul 2 poin dari anak laki-laki.

Untuk kemampuan membaca, siswa perempuan maupun siswa laki-laki memiliki kemampuan yang sama.

Laporan tersebut juga menyebutkan 1 dari 30 siswa laki-laki yang memiliki kemampuan tinggi bidang matematika atau sains. Mereka ingin menjadi insinyur atau ilmuwan, yang mana satu dari 20 siswa perempuan juga berharap demikian.

Selanjutnya, satu dari tiga anak perempuan yang memiliki kemampuan tinggi berharap bekerja dibidang kesehatan. Sedangkan 1 dari enam siswa laki-laki juga berharap demikian.

Hanya sekitar 1 persen siswa laki-laki dan satu persen siswa perempuan yang ingin bekerja di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Sebagai informasi, PISA adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan. Penilaian itu dilakukan untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.

Di Indonesia, Kabalitbang Kemdikbud, Totok Suprayitno menjelaskan, PISA diujikan pada 12.098 siswa pada 399 satuan pendidikan yang tersebar di Indonesia. Namun jumlah siswa terbanyak berasal dari DKI Jakarta dan Yogyakarta.

Ditambahkan, pengujian beralih dari penilaian berbasis kertas menjadi komputer. Sedangkan domain yang diukur adalah kemampuan membaca siswa. Selain dilakukan juga penilaian matematika, sains, literasi, keuangan dan kompetensi global. (Tri Wahyuni)