Platform MM Bantu Guru Wilayah 3T Tingkatkan Pembelajaran

0

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah guru di wilayah 3T mengaku terbantu pembelajarannya berkat platform Merdeka Mengajar (MM). Meski kadang sulit diakses, karena terbatasnya jaringan internet.

Seperti disampaikan guru matematika di SMP Negeri 9 Satu Atap Belimbing, Kabupaten Melawi Kalimantan Barat, Muhamad Firman. Katanya, Kurikulum Merdeka memudahkan guru di wilayah 3T, karena sifatnya yang dapat menyesuaikan dengan situasi belajar mengajar.

“Platform Merdeka Mengajar membantu kita mengatur waktu dan menyesuaikan pembelajaran karena materi pembelajarannya berbeda dengan siswa di kota,” ujarnya.

Kondisi itu, lanjut Firman, juha didukung Kurikulum Merdeka. Aehingga guru bisa merasakan kebebasan untuk berinovasi dengan menyesuaikan kondisi dan tantangan yang ada.

“Untuk mengakses platform Merdeka Mengajar, sejujurnya kami sulit karena terbatas jaringan di daerah ini. Tetapi fitur yang ada sangat membantu dalam menerapkan Kurikulum Merdeka,” kata Firman.

Meskipun sinyal cukup sulit, menurut Firman, guru di wilayahnya tetap bersemangat dalam pembelajaran, dan tidak kalah dengan guru di kota. “Tak ada masalah jika harus ke atas bukit atau ke daerah yang ada sinyalnya untuk mengunduh perangkat ajar untuk dipakai di kelas, lalu mengunggahnya sebagai bukti karya,” tutur Firman.

Hal senada dikemukakan guru SMP Negeri 2 Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT), Muhammad Arifoeddin. Guru di wilayah tersebut terbantu dalam pembelajaran berkat platform Merdeka Mengajar. Karena menyediakan referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai dengan Kurikulum Merdeka.

Dalam platform Merdeka Mengajar, ada fitur Perangkat Ajar yang dapat digunakan guru dan tenaga kependidikan dalam mengembangkan diri. Selain itu, ada perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka.

“Fitur asesmen murid membantu guru dan tenaga kependidikan dengan cepat melakukan analisis diagnostik, terkait kemampuan peserta didik dalam literasi dan numerasi. Sehingga pembelajaran diterapkan sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan peserta didik,” ujar Arif.

Platform Merdeka Mengajar memberi kesempatan kepada guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya.

Sementara itu, guru SMA Negeri 1 Amabi Oefeto Kabupaten Kupang, NTT, Elsa Nofarita Haumeni berbagi kisah bagaimana platform Merdeka Mengajar membantunya dalam proses pembelajaran.

Ia mengaku senang karena ada fitur platform MM seperti pelatihan mandiri dan bahan ajar yang berguna di kelas. “Saya juga dapat banyak inspirasi dari fitur ‘Bukti Karya’ yang diunggah rekan-rekan guru di seluruh tanah air,” ujarnya.

Elsa selalu mengikuti informasi terkini dari platform tersebut, sehingga bisa diterapkan di kelas guna membantu siswanya belajar secara maksimal.

Dari Manokwari Papua Barat, Dolfanweik Hukom, guru SMP Negeri 2 Manokwari menuturkan, fitur pelatihan mandiri di platform Merdeka Mengajar benar-benar melatih dirinya untuk konsisten menyelesaikan menu pelatihan tanpa paksaan atau tekanan.

“Saya juga dapat belajar dari para guru hebat lainnya di Indonesia melalui Video Inspirasi, Karya Nyata, dan Komunitas Belajar cukup melalui ponsel saya. Hal itu menantang saya untuk melakukan karya kreatif guna menggerakkan komunitas di daerah saya,” katanya.

Sebagai informasi, Platform Merdeka Mengajar yang diluncurkan bersama Kurikulum Merdeka pada awal 2022 telah membantu lebih dari 1,8 juta guru untuk terus belajar, mengajar dengan lebih baik, dan berkarya.

Fitur dalam platform Merdeka Mengajar disiapkan untuk membantu guru menerapkan pembelajaran paradigma baru, baik dengan menyediakan referensi pengajaran maupun melalui peningkatan kompetensi.

“Tak hanya guru di kota besar maupun daerah yang secara infrastruktur jaringan sudah mapan, kami juga bangga melihat antusiasme para guru di daerah 3T untuk memaksimalkan fitur-fitur di platform Merdeka Mengajar,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), Kemdikbudristek, Hasan Chabibie.

“Saat ini, di wilayah 3T sudah ada 100 ribu akun belajar.id yang teraktivasi, 29 ribu guru pengguna sudah mengakses platform Merdeka Mengajar, dan 20 ribu guru aktif menggunakan lima menu utama di platform Merdeka Mengajar,” ujarnya.

Menanggapi kesulitan guru yang mengalami keterbatasan sinyal di daerahnya, Hasan berharap guru tidak pantang menyerah dan antusias dalam memaksimalkan platform Merdeka Mengajar seperti guru Firman di Kabupaten Melawi Kalimantan Barat.

“Kami sedari awal menyadari tantangan itu. Dari sisi teknologi, aplikasi Merdeka Mengajar sudah dirancang supaya lebih ringan daripada aplikasi serupa. Sehingga guru dengan berbagai tipe ponsel pintar bisa lebih mudah dalam mengunduh dan mengoperasikan platform Merdeka Mengajar,” kata Hasan.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Kemdikbudristek, Nunuk Suryani mengatakan, di masa lalu guru sangat tergantung dengan diklat maupun kegiatan resmi dari pusat untuk belajar. Namun kini, semua itu bisa diakses melalui platform Merdeka Mengajar.

“Platform tersebut memampukan guru untuk belajar dan berlatih secara mandiri. Hal itu menjadi solusi efektif untuk menjembatani tantangan jarak dan waktu,” katanya.

Seperti yang disampaikan Elsa Nofarita dari Kupang NTT, salah satu fitur di dalam platform Merdeka Mengajar yang cukup populer dan sangat dirasakan manfaatnya oleh para guru pengguna adalah ‘Bukti Karya’. Karena memungkinkan jutaan guru se-Indonesia dapat saling berhubungan untuk saling menginspirasi.

Nunuk menambahkan, capaian menu Bukti Karya di platform Merdeka Mengajar hingga saat ini mencapai lebih dari 80 ribu karya, yang diunggah lebih dari 30 ribu guru dari berbagai provinsi. Hal itu menjadi bukti positif semangat Merdeka Belajar telah menjadi gerakan yang menular dan berdampak positif di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam fitur Bukti Karya, guru dapat mengunggah hasil karyanya seperti bahan ajar, praktik pembelajaran, modul ajar, praktik baik, kepemimpinan sekolah, serta karya lainnya secara mandiri untuk bisa dimanfaatkan guru lainnya. (Tri Wahyuni)