Pohon Pisang Bertandan 2,2 meter Tumbuh di Temanggung

0
Pohon berbuah pisang unik. (twitter.com)

TEMANGGUNG (Suara Karya): Pohon pisang warga Dusun Mendirat, Desa Pare, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tumbuh dengan unik dengan panjang tandan 2,2 meter dan berbuah hingga seribuan pisang.

Pemilik pohon pisang Ny Munzaimah (41) di Temanggung, Selasa (27/11/2018), menyebutkan tanaman pisang tersebut tumbuh sekitar satu tahun lalu di belakang rumahnya.

“Tanaman itu tumbuh liar, kami tidak menanamnya,” katanya.

Ia mengatakan, meskipun buah pisang di bagian atas sudah menguning, namun jantung pisangnya masih ada dan bunganya selalu menjadi pisang meskipun tidak ada isinya.

Guna mengantisipasi pohon pisang setinggi tiga meter tersebut tidak roboh oleh pemiliknya diberi tiang penyangga dan juga diikatkan ke sebuah pohon alpukat di dekatnya dengan menggunakan kawat.

Ia menjelaskan awalnya tidak ada yang aneh dengan pohon tersebut, seperti layaknya pohon pisang pada umumnya. Namun, seiring waktu berjalan, dalam dua bulan terakhir mulai menunjukkan keanehan, yakni tandannya makin menjuntai panjang ke tanah dengan seribuan pisang.

“Tidak ada tanda-tanda aneh awalnya. Tetapi lambat laun tandannya semakin panjang dan buah pisangnya sangat banyak, mungkin ribuan jumlahnya.” katanya.

Ia menambahkan meski masih banyak buah yang dalam kondisi mentah berwarna hijau, namun ada pula pisang yang sudah mulai menguning, terutama yang terdapat di bagian pangkal tandan. Meski demikian, ia mengaku sama sekali belum pernah mencicipi rasa buah pisang itu.

“Kami belum tahu pisang ini mau diapakan, bisa juga kami jual, tetapi untuk sementara biar begitu dulu jadi tontonan warga,” tambahnya.

Kepala Desa Pare, Supangat mengatakan fenomena pohon pisang dengan tandan 2,2 meter baru pertama kali terjadi di desanya.

Ia menerangkan tidak heran apabila banyak warga yang datang untuk melihat langsung kemudian berswafoto di sekitar pohon pisang tersebut.

Guna menghindari adanya kerusakan, saat ini di sekitar pohon tersebut diberi garis pembatas berupa tali. (Syarifuddin Lihawa)