Polri Berantas Premanisme yang Ganggu Distribusi Barang di Seluruh Wilayah NKRI

0

JAKARTA (Suara Karya): Banyaknya pungutan liar (Pungli) di luar area pelabuhan Tanjung Priok oleh aksi premanisme menjadi keluhan para pengemudi dan pekerja khususnya sopir truk, atas instruksi Presiden Jokowi baru-baru ini mendapat dukungan publik. Respons cepat Presiden dan Kapolri atas keluhan para pengemudi truk tersebut patut diapresiasi.

Dengan menindak lanjuti keluhan para pekerja pengemudi truk yang merupakan motor mobilitas keluar masuk barang atau peti kemas dari pelabuhan Tanjung Priok. Dampaknya, tak menunggu 24 Jam, Polri langsung menggelar operasi secara nasional memberantas premanisme yang mengganggu distribusi barang di seluruh wilayah NKRI.

“Namun, pascapenindakan tersebut beredar sejumlah video yang viral dimedia massa dengan narasi yang seolah menunjukkan setelah tidak ada pungli, pekerjaan bongkar muat peti kemas pun jadi tidak terlayani,” ungkap aktivis hukum sosial-politik Ferdinand Hutahaean dalam keterangan tertulisnya yang diterima suarakarya.co.id, Selasa (15/6/2021).

Untuk mengatasi hal itu, Pelindo sebagai pengelola telah menyiapkan sejumlah solusi. Pertama, dengan menempatkan operator nonmuslim saat hari Jumat. Dan kedua, menetapkan hot seat saat pergantian shift sehingga jeda bisa di minimalkan.

Ketiga menetapkan hot seat saat pergantian shift sehingga jeda bisa di minimalkan.

Kita berharap bahwa ini akan menyelesaikan masalah yang sama dan tidak lagi terjadi antrian seolah bongkar muat tidak dilayani karena tidak ada pungli.

Setelah video tersebut, menyusul ada lagi video yang juga viral yaitu diturunkannya sebuah kantong plastik dari atas kebawah dengan tali, namun tak terlihat siapa yang menurunkan. Diduga yang menurunkan adalah operator dengan tuduhan narasi dalam video untuk meminta uang kepada pengemudi.

Video tersebut ternyata adalah video lama pada tahun 2017 dan sudah ditonton berulang kali sejak tayang. Jadi peristiwa tersebut bukan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun demikian kita tetap meminta kepada Pelindo agar hal seperti ini ditertibkan jika masih ada.

Atas peristiwa diatas, kita harus cermat melihat titik pungutan liar dengan pemaksaan.

Pungli terbesar terjadi diluar pelabuhan dan dilakukan oleh oknum-oknum premanisme yang memang harus di basmi. Dan terkait perilaku operator yang viral tersebut, lebih kepada pemberian uang terimakasih oleh para pengemudi. Sama ketika kita mencukur rambut, sudah bayar ke kasir, tapi tetap saja kita memberi dengan iklas tip kepada tukang cukurnya.

Jadi fokus yang harus diberantas oleh Polri adalah premanisme dijalanan yang melakukan pungli. Ini yang meresahkan banyak pengemudi. Soal perilaku operator, kita berharap Pelindo akan tegas menerapkan sanksi jika ada yang memaksa meminta uang.

Kita dukung perintah Presiden agar kawasan Tanjung priok bersih dari pungutan liar khususnya yang banyak terjadi dan dominan terjadi diluar areal Pelabuhan bukan didalam pelabuhan. (Bobby MZ)