Praktisi Migas: Optimalisasi Produksi Sumur Eksisting Diperlukan

0

JAKARTA (Suara Karya): Praktisi minyak dan gas (migas) Satoto Agustono, mengungkapkan perlunya optimalisasi produksi migas di sumur eksisting, dan pengeboran sumur-sumur baru. Hal ini mengingat, terus menurunnya produksi migas nasional pada setiap tahunnya.

Menurut Satoto, salah satu tantangan nyata dalam meningkatkan produksi minyak nasional adalah kondisi sumur minyak yang berumur dan cadangan terbatas.

Selain itu, mencari sumber minyak baru bukanlah pekerjaan mudah, biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Karena, sejak delapan tahun terakhir, produksi minyak terus mengalami penurunan.

“Menurunnya produksi sumur-sumur migas yang berumur merupakan hal yang lazim, karena seringnya dieksploitasi akan membuat cadangan sumur tersebut surut dan sulit diambil,” kata Satoto dalam diskusi Forum Keuangan.co bertema “WOWS dan Produksi Minyak Kita” di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Dia mengatakan, untuk mencegah terjadinya penurunan produksi minyak di sumur eksisting, adalah dengan pemeliharaan, seperti melakukan Work Over Well Service (WOWS).

Dijelaskannya, work over merupakan pekerjaan ulang atas sebuah sumur minyak yang telah ada dan well service adalah perawatan sumur minyak.

Menurut Satoto, produksi minyak dari work over jumlahnya bisa melebihi hasil pemboran dan low cost, serta kepastian mendapatkan minyaknya lebih tinggi.

“Kalau mengebor atau mengembangkan sumur baru hingga kedalaman 1500 meter, biayanya mencapai 4 hingga 5 juta dolar AS,” katanya.

Satoto menambahkan, WOWS akan selalu dibutuhkan selama minyak masih dieksploitasi. “Semua harus berjalan, dalam industri migas kebutuhannya dibagi bagi, antara eksplorasi, pengembangan dan WOWS masing masing berapa persen. Bisa saja kontraktor migas ditahun tertentu tidak ada aktivitas eksplorasi, tapi  WOWS akan tetap dilakukan. Ibarat kita punya mobil, tetap membutuhkan perawatan rutin khan, agar mobil tetap prima,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Direktur Riset OrmitSky, Yopi Oktavianto. Menurutnya, pemilihan sumur minyak yang akan dilakukan perawatan, melewati beberapa persyaratan, seperti tes potensi produksi sumur. “Aktivitas WOWS menggunakan biaya operasional, tidak terhitung sebagai biaya investasi,” kata Yopi.

Dimetahui, data SKK Migas ditahun 2019 pengerjaan ulang sumur atau work over dilakukan di 969 sumur dan kegiatan well service sekitar 25.296 kegiatan. Ditahun ini, SKK Migas menargetkan pengeboran 57 sumur eksplorasi, naik lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu sebanyak 21 sumur.

Tingkat produksi minyak yang tidak mampu mengimbangi konsumsi minyak nasional, membuat Indonesia mengalami defisit minyak sejak 2004. Contohnya, produksi minyak pada 2003 sebanyak 1,18 juta barel per hari namun konsumsi dalam negeri menyentuh angka 1,23 juta barel. Sehingga defisit mencapai 54 ribu barel per hari.

“Dari total produksi minyak kita, saya menduga kontribusi terbesarnya berasal dari kegiatan WOWS yang mungkin mencapai hingga 80 persen. Ini tentunya mengingat eksplorasi sumur minyak baru membutuhkan waktu agar dapat berproduksi maksimal,” ujarnya. (Andara Yuni)