Presiden Iran: AS Akan “Menyesal” Berlakukan Lagi Sanksi

0
Presiden Iran Hassan Rouhani. (Reuters)

IRAN (Suara Karya): Presiden Iran Hassan Rouhani pada Senin (6/8) mengatakan rakyat Iran akan membuat Amerika Serikat menyesal karena memberlakukan lagi sanksi terhadap Republik Islam tersebut.

“Melalui persatuan dan solidaritas, rakyat Iran akan menghadapi dan melawan dengan keberanian kembalinya sanksi,” kata Rouhani, sebagaimana dikutip Xinhua, Selasa (7/8) pagi. “Trump akan belajar bahwa jenis tekanan ini tidak membuat rakyat Iran menyerah pada masa lalu dan (rakyat Iran) takkan pernah melakukannya pada masa depan.”

Rouhani juga mengatakan Pemerintah AS “tak bisa dipercaya dalam perundingan apapun” setelah penarikan dirinya dari kesepakatan nuklir Iran.

“Pembicaraan memerlukan kejujuran,” kata Presiden Iran tersebut di dalam pidato yang ditayangkan televisi pada Senin. Ia mendesak Amerika Serikat agar membuktikan i`tikadnya untuk menyelesaikan masalah melalui perundingan.

“Perundingan dengan sanksi tak masuk akal,” ia menegaskan. Presiden Iran itu menyatakan seruan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini bagi pembicaraan langsung dengan Iran hanya bertujuan menciptakan perpecahan di negeri tersebut.

Gedung Putih mengatakan di dalam satu pernyataan pada Senin (6/8) bahwa Amerika Serikat mulai Selatan akan mengaktifkan serangkaian sanksi terhadap sektor industri dan keuangan Iran.

Tindakan tersebut akan menjatuhkan sanksi AS atas Iran ke tingkat yang sama dengan sanksi sebelum kesepakatan nuklir banyak pihak dicapai pada 2015.

Presiden AS Donald Trump pada 8 Mei mengeluarkan Amerika Serikat dari Rencana Aksi Menyeluruh Gabungan (JCPOA), sementara penandatangan lain berikrar akan tetap berkomitmen pada kesepakatan itu.

Babak pertama sanksi, yang direncanakan berlaku pada pukul 12.01 waktu setempat Selasa (11.01 WIB), dengan sasaran pembelian mata uang AS oleh Teheran, perdagangan emas dan logam mulia lain, serta penggunaan grafit, batu bara, alumunium serta logam pada proses industri.

Sanksi itu juga mempengaruhi transaksi yang berkaitan dengan rial Iran, dikeluarkannya utang luar negeri dan sektor otomotif negeri tersebut.

Babak berikutnya sanksi, yang akan diberlakukan kembali pada November, akan ditujukan pada sektor pelabuhan, energi dan pelayaran Iran, transaksinya yang berkaitan dengan minyak, dan transaksi luar negeri dengan Bank Sentral Iran, kata pernyataan Gedung Putih itu. (Ardiansyah)