Prodi Olahraga UNJ Masih Paling Tinggi Peminat dalam SBMPTN

0

JAKARTA (Suara Karya): Program studi (prodi) olahraga di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) masih paling tinggi peminat dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018. Jumlah pendaftar mencapai 2.310 orang, sementara daya tampung 150 kursi.

“Kondisi ini sebenarnya bagus, karena bisa mendorong pertumbuhan “industri” olahraga di Tanah Air,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat melihat pelaksanaan ujian keterampilan (UK) bagi peserta SBMPTN di kampus UNJ, Rawamangun Jakarta, Rabu (9/5).

Nasir dalam kesempatan itu didampingi Ketua Panitia Pusat SBMPTN yang juga Rektor Universitas Negeri 11 Maret Solo (UNS), Ravik Karsidi.

Peserta SBMPTN dengan peminatan pada prodi olahraga dan seni harus mengikuti 2 tes, yaitu ujian tulis pada 8 Mei dan UK yang digelar selama 2 hari yaitu 9 dan 11 Mei. Hal itu dilakukan guna mendapat calon mahasiswa dengan kualitas terbaik.

“Karena kemampuan seseorang dalam bidang seni dan olahraga tak dapat diukur dari hasil ujian tertulis saja, tetapi harus dikombinasikan dengan ujian keterampilan,” ujarnya.

Universitas Negeri Jakarta merupakan kampus dengan peserta UK terbanyak di Indonesia. Tercatat 4.753 peserta, yang terbagi 2.310 peserta UK untuk pendidikan jasmani dan olahraga, 1.827 peserta UK seni rupa desain dan kriya, 430 peserta UK musik dan 186 UK tari.

Nasir mengaku senang juga jika program studi olahraga makin dilirik dan diminati calon mahasiswa. Dengan demikian, kampus mendapat bibit unggul yang dapat mendorong industri pada semua cabang olahraga di Indonesia di masa depan.

“Kita harus mendorong agar bidang olahraga ini dapat menjadi industri, yang berdampak pada prestasi olahraga Indonesiandi dunia internasional,” katanya.

Ujian keterampilan untuk pendidikan jasmani dan olahraga meliputi sejumlah pemeriksaan mulai dari kesehatan jantung dan paru, pengukuran antropometri (tinggi dan berat badan), postur dan anggota gerak, kemampuan verbal dan auditory, mata melalui tes buta warna ishihara.

Selanjutnya peserta menjalani tes motorik yang terdiri dari lempar tangkap bola ke dinding, lompat tegak, tes sit-up, tes push-up, tes kelincahan dan daya tahan kardiorespiratori dengan berlari sejauh 1.600 meter.

Ditanyakan apakah atlet mendapat prioritas untuk diterima, Menristekdikti mengatakan, hal itu merupakan otoritas rektor. Namun, ia berharap rektor mempertimbangkan prestasi calon mahasiswanya. Apalagi jika sudah memiliki medali di tingkat nasional.

“Saya harap para atlet dapat prioritas untuk masuk, sebagai kompensasi atas prestasi selama ini,” kata Nasir menandaskan. (Tri Wahyuni)