Program Bayi Tabung Plus Teknologi PGT-A, Bisa Pilih-Pilih Bayi Sehat!

0

JAKARTA (Suara Karya): Program bayi tabung yang dikembangkan Morula IVF Indonesia kini tak lagi membahas seberapa besar peluang kehamilan, tetapi sudah bisa pilih-pilih embrio agar dapat bayi yang sehat.

“Semua itu berkat Teknologi PGT-A (Pre-Implamantation Genetic Testing for Aneuploidy) yang dapat memilih embrio terbaik dari suami untuk ditanamkan di rahim istri,” kata Direktur Scientific Morula IVF Indonesia, Prof Arief Boediono PhD dalam diskusi media, di Jakarta, Senin (7/11/22).

Hadir dalam kesempatan yang sama CEO Morula Indonesia, dr Ivan Rizal Sini, Direktur Medis Morula IVF Indonesia, dr Arie A Polim dan peserta program bayi tabung dengan teknologi PGT-A di Morula IVF, Agnes Monica Sari.

Prof Arief menegaskan, teknologi PGT-A perlu bagi pasangan yang sudah ikut program bayi tabung berulang kali tapi tak kunjung hamil, pasangan dengan riwayat keguguran berulang, pasangan dengan riwayat kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dan pasangan berusia di atas 38 tahun.

“Penyebab kasus kemandulan (infertilitas) di Indonesia hingga saat ini masih menyudutkan istri sebagai pihak yang bermasalah. Padahal, 30 persen kasus fertilitas juga ditentukan oleh kualitas embrio dari suami,” ujarnya.

Ditambahkan, penyebab kasus fertilitas itu beragam. Pengalaman menunjukkan sekitar 30 persen berasal dari istri, 30 persen dari suami, 30 persen dari suami dan istri dan 10 persen karena faktor yang tidak diketahui.

“Karena itu, penting bagi pasangan untuk memeriksakan diri ke dokter jika 1-2 tahun tak kunjung hamil setelah pernikahan. Karena indung telur pada perempuan juga punya batas waktu,” katanya.

Jika masalah infertilitas karena faktor embrio, lanjut Prof Arief, Morula IVF Indonesia memiliki teknologi yang dapat mendeteksi masalah kromosom pada embrio. Hal itu untuk mencegah terjadinya keguguran pada pasien ibu dan calon bayi tabung.

Selain PGT-A, pemeriksaan kromosom lanjutan lainnya adalah PGT-M (Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic/single-gene defect). Beberapa kelainan yang dapat dicegah dengan teknologi PGT-M yaitu thalassemia, spinal muscular atropy, cystic fibrosis dan penyakit genetik lain yang bersifat turunan.

“Karena embrio yang dimasukkan ke dalam rahim merupakan kualitas terbaik maka tingkat keberhasilan hamil lebih tinggi dan bayi juga terhindar dari penyakit genetik,” ujarnya.

Prof Arie mengutip hasil studi yang dilakukan pada 2019 hingga September 2022 dengan target sasaran 500 pasien. Hasil teknologi PGT-A membantu potensi kehamilan sebesar 68 persen di kelompok umur 38-39 tahun dan 46 persen usia diatas 40 tahun.

Pada kelompok 38-39 tahun tersebut, persentase kehamilan dengan teknologi PGT-A lebih baik yaitu 25 persen dibanding kehamilan Non PGT-A. Usia 40 tahun ke atas, PGT-A membantu persentase kehamilan 19 persen lebih baik dari yg Non PGT-A.

Data lain mengungkapkan, pasien dalam rentang usia 36-44 tahun memiliki angka kromosom normal (euploid) yang jumlahnya lebih rendah dibndingkan kromosom tidak normal (aneuploid).

Hal itu menunjukkan, teknologi PGT-A harus direkomendasikan kepada pasien dalam kelompok usia 36-44 tahun dengan tujuan ‘healthy embryo is healthy baby’ bisa terpenuhi.

“Teknologi PGT-A juga dapat mengidentifikasi embrio dengan kromosom seks yang normal atau sehat dengan mengidentifikasi kromosom 46 XX atau 46 XY. Bahasa awamnya dikenal dengan deteksi jenis kelamin yang normal,” katanya.

Ditanya jika embrio dari suami ternyata tidak ada yang bagus, Prof Arief mengatakan, proses seleksi terus dilakukan hingga diperoleh embrio yang berkualitas. Termasuk telur dari istri, dicari dengan kualitas terbaik.

“Mereka bisa menjalani treatment di Morula IVF agar menghasilkan embrio dan telur yang berkualitas, serta mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan berkualitas,” katanya menandaskan.

Direktur Medis Morula IVF Indonesia, dr Arie A Polim menyebut, layanan tersebut sudah memperhitungkan efektivitas dari sisi biaya yang meliputi konsultasi, USG, cek laboratorium, analisa sperma, obat stimulasi, tindakan Ovum Pick Up (OPU), fasilitas Time Lapse/VIP Incubator, tindakan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) dan tindakan Embryo Transfer (ET).

“Kegagalan program bayi tabung terjadi karena sekitar 60-70 persen disebabkan karena kromosom yang tidak normal, terutama pada wanita usia di atas 38 tahun. Kerusakan kromosom bahkan bisa mencapai sekitar 75 persen,” kata dr Arie.

Kromosom abnormal bisa terjadi saat proses pembentukan sel-sel telur, sperma dan saat perkembangan embrio. Hal itu menyebabkan kromosom terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bahkan hilang atau penambahan DNA. Kelainan kromosom di atas dikenal sebagai aneuploidy.

“Kondisi itu menyebabkan kelainan kromosom seperti down syndrome dan edwards syndrome serta 60 persen keguguran,” ujarnya.

Tentang PGT-M, dr Arie menjelaskan, teknologi itu dapat mendeteksi mutase single-gene (monogenic) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit genetij bawaan seperti thalassemia, spinal muscular atropy dan cystic fibrosis.

Ditambahkan, Morula IVF Indonesia saat ini meluncurkan
Paket IVF Asmirandah ‘Dragon Baby’ untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan program kehamilan yang cepat dan sehat.

Paket tersebut bekerja sama dengan artis Asmirandah yang berhasil melahirkan buah hati lewat program bayi tabung dengan layanan PGT-A untuk 1 embrio.

“Jika ingin mendapat bayi dengan shio naga, maka Tindakan Ovum Pick Up (OPU) dilakukan maksimal Desember 2022 dan lanjutan tahapan berupa Embryo Transfer (ET) di sekitar Februari 2023, dengan harapan pasien hamil, lalu melahirkan di 2024,” kata dr Arie.

Disinggung soal biaya, dr Arie enggan menyebut karena itu urusan administrasi rumah sakit. “Konsultasi saja dulu, karena kondisi kesehatan setiap pasien itu berbeda. Jadi kebutuhannya juga berbeda,” kata dr Arie menandaskan. (Tri Wahyuni)