Program DMPA Bantu Tingkatkan Ekonomi Perempuan di Kaltim

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) ternyata tak hanya fokus pada bidang pertanian, tetapi juga pemberdayaan perempuan. Diharapkan, program tersebut dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

Seperti disampaikan Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri, Sofiatun asal
Desa Sumber Sari, Kecamatan Sebulu, Kalimantan Timur. Ia mengaku senang mendapat pelatihan dan bantuan modal dari Program DMPA. Karena usaha krupuk dari ikan lele yang dikembangkan kini makin diminati masyarakat sekitar.

“Sekarang saya bisa membantu ekonomi keluarga. Saya ingin anak saya bisa sekolah hingga perguruan tinggi,” kata Sofiatun dalam acara ‘talkshow’ yang digelar United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) COP 26 Pavilion Indonesia secara online, Rabu (10/11/21).

Talkshow tersebut bertema GESI dan Kepemimpinan Perempuan dalam Kelola Hutan di Tingkat Tapak.

Sofiatun mengaku, sebelumnya hanya mengandalkan uang dari suami yang bekerja sebagai karyawan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Berkat usahanya itu, ia tak hanya bisa meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi kuha memberi lapangan pekerjaan untuk perempuan lain di desanya.

“Awalnya, saya membuat kerupuk dari lele, karena ikan itu sangat berlimpah di desa. Saya coba buat mulai dari ikan tiga kilogram lele, ternyata banyak yang suka. Permintaan terus bertambah hingga dipesan sejumlah rumah makan,” kata Sofiatun yang menyebut kini omsetnya mencapai Rp6 juta per bulan.

Melihat keberhasilan itu, Sofiatun terdorong untuk mengajak perempuan lain di desanya untuk mengembangkan usaha rumahan. Upaya itu dilakukan, karena ia memiliki prinsip perempuan itu harus mandiri dan memiliki uang sendiri. Hidup tidak boleh sepenuhnya bergantung pada suami.

Ia tidak menyangka, usaha kecil yang ditekuninya telah mengantarkan dirinya bicara dalam forum internasional untuk perubahan iklim dan disaksikan segenap penduduk di dunia.

“Perasaan deg-degan tetap ada, tetapi saya mencoba tenang dan percaya diri. ternyata usaha, meski kecil kalau ditekuni akan membawa dampak positif terhadap pengembangan perempuan. Tak hanya dapat uang, tetapi juga mendukung pengelolaan hutan secara lestari,” ujarnya.

KWT Mandiri merupakan binaan dari mitra pemasok Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, yaitu PT Surya Hutani Jaya (SRH). Perusahaan tersebut memberi bantuan modal, peralatan, pendampingan dan pemasaran terhadap produk yang dihasilkan dari kelompok tersebut.

“Kami melihat potensi, lalu tergerak untuk membantu mereka agar usahanya makin berkembang,” kata karyawan PT SRH yang jadi pendamping KWT Mandiri, Adi Heryanto.

Ditambahkan, KWT Mandiri Desa Sumber Sari aktif mendorong pengelolaan hutan lestari dengan mengajak masyarakat desa yang bergerak di bidang pertanian untuk bisa mengelola lahan pertanian dengan sistim tanpa bakar.

Sejak mendapat bantuan dari program DMPA usaha UMKM yang dijalankan oleh kelompok mandiri terus berkembang sehingga tidak hanya kerupuk lele yang diproduksi, tetapi juga ada produk lain seperti keripik singkong, rengginang, madu mongso, jipang dan marning jagung.

Produk tersebut dipilih kelompok mandiri karena peminatnya yang cukup tinggi dan dari sisi bahan baku mudah di dapat di sekitar desa, seperti ikan lele, singkong atau jagung.

Dukungan terhadap pengembangan perempuan di wilayah itu tidak hanya datang dari swasta, tetapi juga dari Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) XI Samarinda. Seperti dikemukakan Eko Bhahariwanto dari BPHP XI Samarinda, jika masyarakat di sekitar hutan menjadi sejahtera, maka hutannya pasti akan terjaga.

“Menjadi kawajiban kami untuk membantu kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Bekal keterampilan kami berikan kepada semia warga, tidak hanya perempuan saja. Dukungan juga diberikan dalam bentuk pendampingan hingga modal,” tuturnya.

Eko meyakini, kolaborasi swasta dan pemerintah melalui pemberdayaan masyarakat lewat program DMPA akan terjalin hubungan lebih harmonis antara para pihak. Hal itu akan berdampak pada lingkungan, sehingga terhindar dari kebakaran hutan dan lahan. (Tri Wahyuni)