Program IRN Kembali Beri Bantuan Dana Riset bagi 63 Mahasiswa

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Indofood Riset Nugraha (IRN) kembali memberi bantuan dana riset untuk mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Dari 318 proposal yang masuk, terpilih 63 mahasiswa dari 33 perguruan tinggi negeri dan 12 perguruan tinggi swasta (PTS) se-Indonesia.

“Dukungan dari industri semacam ini akan memberi kontribusi positif bagi dunia penelitian di Tanah Air,” kata Presiden Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Franciscus Welirang dalam acara penyerahan dana riset IRN bagi 63 di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Dana riset diserahkan secara simbolik kepada 3 mahasiswa yang dinilai memiliki proposal penelitian terbaik, yaitu Mariska Pricilla dari Surya Tangerang, Muhammad Fahrurrozi Absirin dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Sayyidul Fath dari Universitas Syiah Kuala Aceh.

Ditanya hasil riset mahasiswa selalu dijadikan produk pangan oleh Indofood dalam 22 tahun program IRN, Franciscus menegaskan, keputusan itu diserahkan ke masing-masing direktur. “Bebas saja. Hasil penelitiannya tak selalu kami pakai. Kalau orang luar mau pakai, silakan,” ujarnya.

Ditambahkan, hasil penelitian mahasiswa umumnya belum terlalu detail. Masih dibutugkan penelitian lanjutan untuk menjadi produk pangan yang akan dijual. “Jika ada penelitian mahasiswa yang dikomersialkan, kerja kerasnya akan kami hargai. Ada dana kompensasi,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Penasehat Program IRN, FG Winarno. Ia berharap program IRN dapat diperluas, yang mana hasil penelitian pangan menjadi embrio oleh perusahaan start-up pangan yang dibiayai dari dana pengembangan start-up pemerintah.

“Jika program ini bisa dikembangkan secara luas, akan banyak bermunculan perusahaan start-up pangan di Indonesia. Hal itu akan menguatkan sistem pangan berkelanjutan berbasis potensi dan kearifan lokal di Indonesia,” ucap mantan Guru Besar Bidang Pangan IPB.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang juga Ketua Program IRN, Suaimi Suriady menambahkan, program IRN tak sekadar memberi dana riset tetapi juga menyediakan pelatihan untuk menganalisa data dan penulisan jurnal ilmiah, coaching clinic serta pendampingan oleh pakar yang sudah terkenal di dalam dan luar negeri.

“Yang istimewa dari program IRN ada program pendampingan dari pakar yang sudah terkenal baik di dalam maupun luar negeri. Ini akan jadi pengalaman bagi mahasiswa yang akan terjun menjadi peneliti profesional setelah lulus kuliah,” katanya.

IRN merupakan program corporate social responsibility (CSR) yang menekankan pada pembentukan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Program IRN terbuka bagi mahasiswa S1 yang sedang mengerjakan tugas akhir, dari berbagai jurusan. Penelitian bersumber dari pangan lokal baik darat maupun laut, yang meliputi bidang produksi, teknologi, kesehatan dan gizi masyarakat.

Ketua Tim Pakar IRN, Purwiyatno Hariyadi menambahkan IRN digelar guna mendorong mahasiswa untuk lebih peka dan jeli dalam mengindentifikasi dan eksplorasi pangan di sekitar. Diharapkan IRN dapat berkontribusi dalam pengembangan sistem dan diversifikasi pangan di Indonesia.

Guna meningkatkan kualitas program, lanjut Purwiyatno, sejak tahun lalu tiga peneliti terbaik dapat penghargaan. Lima aspek penilaian yaitu pelaksanaan penelitian, mutu penelitian, teknik presentasi, penguasaan materi dan sikap peneliti.

“Penghargaan diberikan dalam bentuk scientific tour ke Singapura untuk mempelajari proses dan prasarana penelitian yang lebih mumpuni,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)