Program ‘PembaTIK’ Kian Diminati, Pesertanya Kini Capai 80 Ribu

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) yang dikembangkan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) semakin diminati para guru.

“Tahun ini, peserta melebihi target. Jumlahnya mencapai lebih dari 80 ribu guru mengikuti Program PembaTIK,” kata Kepala Pusdatin Kemdikbudristek, Hasan Chabibie dalam acar Silaturahmi Merdeka Belajar Episode 14: Guru Makin Jago TIK, Belajar Lebih Seru, yang digelar daring, Kamis (4/11/21).

Hasan mengungkapkan, pandemi covid-19 mendorong peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Untuk itu, Pusdatin mengupayakan beragam sarana belajar untuk membantu guru dan murid menavigasi dunia belajar di tengah pandemi.

“Sepuluh tahun lalu, kita sering diskusi dampak negatif teknologi. Tapi sekarang, setelah pandemi, dampak positif teknologi terhadap pembelajaran makin nyata,” ucapnya.

Dalah satu program yang dikembangkan Pusdatin adalah Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK). Guru ditantang membuat bahan ajar berbasis TIK serta optimalisasi portal Rumah Belajar agar pembelajaran semakin relevan dan menyenangkan.

Program PembaTIK dimulai pada 2017 dan diikuti 1.020 peserta dari 34 provinsi. Kegiatan dilaksanakan secara luring di provinsi masing-masing. Program tersebut berkembang cepat hingga mencapai 80 ribu peserta pada 2021.

Diharapkan, lewat PembaTIK, para guru makin cakap berkreasi, berbagi dan berkolaborasi dalam mengembangkan konten-konten belajar lewat media berbasis TIK. “Apapun saluran yang dipakai dalam PJJ daring, yang penting proses pembelajarannya tetap berjalan dan transfer pengetahuannya tetap terjadi,” ungkapnya.

Ditambahkan, pandemi covid-19 memberi hikmah pada peningkatan skala program peningkatan kapasitas TIK yang dilakukan Pusdatin. Setiap tahunnya, Pusdatin menyelenggarakan pelatihan bagi 10 ribu guru, namun di saat pandemi, pelatihan dapat menyasar lebih banyak guru melalui fasilitas TIK.

“Karena covid-19 ini, pelatihan malah bisa diikuti lebih dari 100 ribu guru. Ini sedikit berkah di balik pandemi,” ucapnya.

Tak hanya PembaTIK, Pusdatin pun juga menggelar Sayembara Membuat Bahan Ajar Berbasis TIK atau MembaTIK. Dalam lomba itu, seluruh elemen masyarakat diajak mengembangkan media-media pembelajaran dengan dukungan TIK.

Sebagai informasi, Rumah Belajar adalah portal resmi pembelajaran yang dikembangkan Kemdikbudristek sejak 2011. Portal tersebut dibuat untuk sumber pembelajaran yang memanfaatkan teknologi bagi guru, siswa maupun masyarakat umum secara gratis. Rumah Belajar bisa diakses melalui situs belajar.kemdikbud.go.id.

“Rumah Belajar juga menjadi wadah untuk evaluasi pembelajaran digital dan melayani kelas digital pendidikan terbuka serta jarak jauh. Program PembaTIK juga difasilitasi lewat Rumah Belajar,” kata Hasan menandaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Hendrik Hermawan, alumni MembaTIK tahun 2019 dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah itu mengaku jadi ‘jago’ dalam membuat berbagai konten belajar berbasis video, permainan digital dan teknologi augmented reality.

“Awalnya saya belajar TIK bukan untuk dilombakan, tapi untuk membantu siswa saya agar tidak bosan. Tapi, akhirnya siswa malah jadi ketagihan. Mereka minta dibuatkan permainan edukatif baru setiap minggunya,” kata Hendrik yang juga guru sekolah dasar (SD) itu.

Pengalaman serupa disampaikan Duta Rumah Belajar Provinsi Lampung, Nuvis Melodiana. Katanya, berkat Program PembaTIK dan jadi Duta Rumah Belajar, Nuvis jadi bisa menerapkan beragam model belajar yang inovatif.

“Di rumah, sebagai guru ikut mengembangkan konten pembelajaran digital. Konten tersebut kita bawa ke sekolah, agar siswa bisa diskusi, mengerjakan soal dan ulangan,” tutur Nuvis.

Menurutnya, belajar TIK saat ini bukan hanya milik guru TIK. Guru seni budaya juga bisa menggunakan TIK agar pembelajaran bisa berlangsung lebih seru. (Tri Wahyuni)