Program World Class Professor Targetkan Perbaikan Kualitas Publikasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Jumlah publikasi internasional Indonesia tahun ini menduduki posisi nomor satu di Asia Tenggara, yang sebelumnya dipegang Malaysia. Jumlah publikasi Indonesia mencapai lebih dari 32 ribu dokumen

Namun diakui Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemdikbud, Ali Ghufron Mukti, peningkatan kuantitas publikasi internasional itu belum dibarengi dengan mutu publikasi. Baik pada publikasi yang masuk di jurnal bereputasi dunia maupun dari jumlah sitasi dan kemanfaatannya.

“Kolaborasi merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki mutu publikasi internasional. Upaya itu akan kami raih lewat Program World Class Professor (WCP) sejak 2017 lalu,” kata Ali Ghufron Mukti dalam pembukaan Annual Seminar World Class Professor, di Jakarta, Senin (2/12/19).

Ali Ghufron menjelaskan, Program WCP bertujuan memperkuat kolaborasi dan jejaring antara dosen di dalam negeri dengan profesor kelas dunia. Kolaborasi dilakukan melalui konsep sharing resources.

“Profesor kelas dunia ini tak hanya dari asing, tetapi juga ilmuwan diaspora Indonesia yang memiliki karier gemilang di kampus luar negeri asing,” ucap Ali Ghufron menegaskan.

Disebutkan, Program WCP tahun ini menetapkan 84 penerima dari 25 perguruan tinggi di berbagai daerah. Dari kolaborasi itu diharapkan menghasilkan 120 publikasi bersama (joint publication).

“Output dari Program WCP adalah menghasilkan manuskrip joint publication di jurnal internasional bereputasi Q-1 Scimago untuk Skema A. Bisa juga joint publication di jurnal internasional bereputasi Q-2 untuk Skema B,” ucap Ali Ghufron.

Ditambahkan, program WCP juga bertujuan meningkatkan kompetensi dosen Indonesia dalam produktivitas riset. Selain mendorong perguruan tinggi di Tanah Air masuk ranking 500 besar dunia.

“Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 saat ini, menjadi kompetitif itu penting. Tetapi lewat kolaborasi ini akan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai dan makna,” katanya.

Selain menghasilkan publikasi internasional, Dirjen Ghufron menilai, Program WCP menjadi suatu arena kerja sama untuk saling memberikan inspirasi yang nantinya berujung pada ide-ide baru (inovasi).

“Jadi kalau ditanya apa hasil dari banyaknya publikasi yang dihasilkan peneliti Indonesia, maka jawabannya adalah isi dari publikasi itu sendiri. Isi dari publikasi harus bersifat kebaruan dan menghasilkan inovasi. Hal itu penting, karena suatu bangsa tidak bisa maju jika tidak inovatif,” katanya.

Merujuk pada data evaluasi Program WCP selama 2017-2019, jumlah draft Joint Publication yang masuk sebanyak 162 draft. Dari jumlah itu, sudah ada 92 publikasi yang submited. Sementara 91 publikasi tercatat under review, 25 publikasi accepted dan 45 publikasi berstatus published.

Pada kesempatan yang dama, Plt. Rektor Universitas Trisakti itu juga menyinggung soal kompetensi dosen Tanah Air. Para dosen perlu memiliki literasi baru, yaitu antara lain literasi data, literasi teknologi, literasi humanities, komunikasi dan desain serta lifelong learning.

Untuk itu, Ali Ghufron menilai perlunya perguruan tinggi mengembangkan program pembelajaran online untuk menjangkau lebih banyak anak muda menikmati pendidikan tinggi.

“Hasil riset Profesor Clayton Christensen dari Harvard Business School menyebut, pendidikan online merupakan cara paling murah bagi anak bangsa mendapatkan pendidikan tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Ali Ghufron, program studi online di Indonesia masih sedikit. Mengingat proses perizinan program studi online dibuat tersendiri, berbeda dengan kuliah reguler.

“Agar bisa bertahan, proses pembelajaran di perguruan tinghi harus diubah yang mengarah pada pemanfaatan teknologi. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan infrastruktur, SDM dan kesiapan dosen itu sendiri,” katanya.

Selain WCP, Ditjen SDID Kemdikbud juga memiliki berbagai program peningkatan kualifikasi dan kompetensi dosen, seperti Program Percepatan Doktor melalui Beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), pemberdayaan ilmuwan diaspora, post doctoral, mobilisasi dosen, hingga sabbatical leave (dosen merenung).

Annual Seminar World Class Professor 2019 menghadirkan sejumlah pembicara yang merupakan profesor kelas dunia, yakni Prof Phillipe Girardin dari The Lorraine University, Perancis. Pembicara lain adalah penerima program WCP dalam negeri, yakni Prof Unang Supratman dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Dr Kurnianingsih dari Politeknik Negeri Semarang (Polines). (Tri Wahyuni)