Proses Penyetaraan Ijazah dari Kampus Luar Negeri Kini jadi Lebih Mudah

0

JAKARTA (Suara Karya): Proses penyetaraan ijazah dari perguruan tinggi luar negeri ke standar nasional pendidikan tinggi di Indonesia kini bisa dilakukan lebih mudah. Berkat kemajuan teknologi, proses pengurusan itu bisa dilakukan secara daring.

“Aplikasi tersebut bahkan bisa langsung mengkonversi nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dari perguruan tinggi luar negeri ke standar nasional pendidikan tinggi di Indonesia,” kata Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek), Kemdikbudristek, Aris Junaidi dalam webinar bertajuk ‘Sukses dalam Penyetaraan Ijazah Luar Negeri’, Senin (27/9/21).

Webinar diadakan bagian dari program sosialisasi Ditjen Diktiristek, bekerja sama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom (UK) dan Nottingham.

Aris menjelaskan, pembuatan aplikasi penyetaraan ijazah itu merupakan upaya transformasi pendidikan tinggi, dengan memanfaatkan teknologi. Selain bentuk pengakuan atas kualifikasi ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi luar negeri, yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

“Sebelumnya, surat keputusan (SK) penyetaraan ijazah luar negeri ditandatangani secara manual, hasil konversi nilai IPK juga terpisah dengan SK penyetaraan ijazah luar negeri, dan pengambilan SK penyetaraan ijazah dilakukan tatap muka,” tuturnya.

Namun saat ini, lanjut Aris, SK penyetaraan ijazah bisa ditandatangani secara elektronik, hasil konversi nilai IPK menyatu dengan SK penyetaraan ijazah luar negeri, dan SK penyetaraan tersebut dapat dikirim langsung ke email pengusul.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Diktiristek, Nizam dalam sambutan pembukaannya mengatakan, belajar di luar negeri merupakan kesempatan yang harus dimaksimalkan, entah itu beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) maupun skema beasiswa dari instansi lain.

“Sumber pendanaan itu dari uang rakyat, karena itu tidak boleh disia-siakan. Selain berprestasi di bidang akademik, penting bagi lulusan untuk membangun jejaring untuk berkolaborasi dalam penelitian dan bidang lainnya untuk bekal karir di masa depan,” ujarnya.

Nizam juga berharap, mahasiswa Indonesia di luar negeri menjadi duta bangsa yang memberi kontribusi bagi negara. Seperti melakukan promosi budaya, kuliner dan pariwisata negeri sendiri, agar mereka mau datang ke Indonesia, tak hanya ke Singapura atau Malaysia.

Pada kesempatan yang sama, Nizam memaparkan berbagai transformasi pendidikan tinggi di Indonesia, melalui Program Kampus Merdeka. Program tersebut dijalankan Indonesia lebih dulu, dibanding negara-negara lain. Kabarnya, konsep Kampus Merdeka baru dijalankan beberapa perguruan tinggi, seperti Harvard dan Stanford.

“Mahasiswa diberi waktu hingga tiga semester untuk mendapat pengetahuan dan pengalaman di luar bidangnya, dengan cara ‘learning output’ yang lebih kompetitif dan adaptif terhadap revolusi industri 4.0,” tutur Nizam.

Disebutkan, saat ini tercatat ada 80 ribu mahasiswa sedang mengikuti berbagai program Kampus Merdeka, yang diselenggarakan secara nasional. Sekitar 100 ribu mahasiswa mengikuti program magang Kampus Merdeka yang dilakukan masing-masing perguruan tinggi.

“Program Magang Merdeka tak hanya berkolaborasi dengan sesama perguruan tinggi, tetapi juga dengan berbagai perusahan dan organisasi internasional, seperti Huawei dan PBB. Kesempatan itu bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk pembelajaran intensif demi penguatan kompetensi, baik hard skills maupun soft skills.

“Termasuk pertukaran mahasiswa di kampus internasional bagi sekitar 1.000 mahasiswa Indonesia. Tercatat, ada 71 perguruan tinggi yang bergabung dalam program, terutama di sebagian negara di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan lainnya,” kata Nizam.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Paristiyanti Nurwardani menyampaikan, Ditjen Diktiristek telah menyiapkan pelayanan untuk penyetaraan ijazah luar negeri secara online hingga mencapai 200-500 ijazah. Proses penyetaraan dilakukan setiap bulan.

“Kami pastikan mahasiswa dapat dengan mudah mengakses dan mendaftarkan pengajuan penyetaraan ijazah melalui aplikasi yang sudah dibuat. Ditjen Dikti ingin membuktikan bahwa kami SIGAP dalam melayani,” kata Paris.

Subkoordinator Layanan Ijazah Luar Negeri Ditjen Diktiristek, Satria Akbar Saputra menjelaskan teknis pengajuan penyetaraan ijazah luar negeri. Adapun alur pengajuan penyetaraan ijazah luar negeri terdiri dari 6 tahapan.

Disebutkan, pengusul membuat akun di laman ijazahln.kemendikbud.co.id, kemudian mendaftar dengan mengisi sejumlah formulir; proses konversi IPK dan melengkapi dokumen yang harus dilampirkan; dan proses verifikasi oleh operator tim Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan terkait dokumen yang telah diunggah.

Selain itu, tahap penilaian terhadap substansi oleh tim; penandatanganan SK oleh direktur dengan fitur e-sign; SK akan dikirim ke email masing-masing pengunggah.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Nottingham, Yohan Rubiyantoro mengatakan, webinar diselenggarakan pada momentum yang tepat, yang mana proses perkuliahan 2020/2021 telah selesai pada akhir September 2021. Mereka akan segera kembali ke tanah air.

“Tentunya, mahasiswa ini akan membutuhkan penyetaraan ijazah dari Ditjen Diktiristek,” kata Yohan menandaskan. (Tri Wahyuni)