Proyek Penggalian Kerangka Tentara Jepang di Papua Kembali Dilanjutkan

0

JAKARTA (Suara Karya): Proyek penggalian (ekskavasi), pengumpulan dan pemulangan kerangka (repatriasi) tentara Jepang yang tewas selama perang dunia ke-2 di Papua dan Papua Barat akan kembali dilanjutkan. Proyek tersebut sempat terhenti dalam 4 tahun terakhir ini.

Penandatangan kelanjutan proyek dilakukan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii dan Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Hilmar menjelaskan, proyek penggalian, pengumpulan, identifikasi hingga pemulangan kerangka tentara Jepang di Papua dan Papua Barat sebenarnya telah dilakukan sejak 2013 lalu. Ada sebagian kerangka yang berhasil diindentifikasi, lalu diserahkan ke keluarganya di Jepang.

“Kerangka yang ditemukan setelah diindentifikasi lalu dibakar. Abunya disimpan dalam guci, lalu diberikan ke keluarganya di Jepang,” kata Hilmar yang menyayangkan proyek sempat tertunda selama 4 tahun lalu tanpa alasan yang spesifik.

Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman, Fitra Arda menambahkan, Papua dan Papua Barat menjadi saksi bisu pertarungan tentara Amerika dan Jepang sepanjang sejarah Perang Dunia ke-2 pada 1939-1945. Ribuan tentara Jepang pernah berjibaku dengan tentara sekutu pimpinan Amerika di wilayah Papua.

Disebutkan, salah satu saksi bisu atas tewasnya ratusan tentara yang tewas di Papua berupa goa yang disebut Goa Jepang. Saat menduduki Indonesia, Jepang memanfaatkan goa-goa sebagai tempat persembunyian, perlindungan dan juga tempat penyimpanan senjata.

“Satu goa yang dikenal sebagai Goa Jepang merupakan tempat pertahanan yang sangat kuat dan sulit ditembus tentara sekutu. Untuk melumpuhkan goa, pasukan sekutu dibawah pimpinan Jenderal McArthur menjatuhkan drum-drum bahan bakar dari udara. Tak kurang dari 3 ribu tentara Jepang tewas terkubur dalam goa,” ujarnya.

Kerangka eks tentara Jepang itu berusaha dikembalikan ke keluarganya atas biaya pemerintah Jepang. Selain di Biak, kerangka serdadu dari negeri matahari terbit itu tersebar di beberapa daerah seperti Sarmi dan Jayapura.
“Pengembalian kerangka ini murni mempertimbangkan aspek kemanusiaan,” tutur Fitra Arda.

Disinggung soal besaran biaya, Dubes Masafumi Ishii mengatakan, enggan menyebutkan angkanya. Namun, ia menegaskan, pemerintah Jepang bertanggungjawab atas biaya untuk penggalian, pengumpulan hingga pemulangan kerangka tentara Jepang yang tewas selama perang dunia II di Papua dan Papua Barat tersebut.

“Pengembalian kerangka ke keluarga merupakan bagian dari budaya Jepang. Itu merupakan penghormatan terakhir kepada orang-orang yang telah meninggalkan dunia ini,” kata Ishii. (Tri Wahyuni)