PTS Sambut Baik Rencana Pengurangan Jumlah SKS

0

JAKARTA (Suara Karya): Perguruan tinggi swasta (PTS) sambut baik rencana pemerintah dalam pengurangan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS). Upaya itu bisa dimulai lewat redefinisi Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) agar lebih bersifat soft skills.

“Sebetulnya berapa persen mata kuliah yang masih diingat setelah lulus. Paling sekitar 20 sampai 30 persen saja,” kata Rektor Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko usai seminar Catatan Akhir Tahun dan Atma Jaya Award “Indonesia 4.0 Teknologi dan Kepedulian Sosial” di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Ia berharap, berkurangnya jumlah SKS dapat memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperbanyak praktik. “Selama ini bukan hanya banyak SKS, tetapi juga praktik. Akibatnya, mahasiswa lama lulusnya,” ujarnya.

Padahal, lanjut Prasetyantoko, hal yang dibutuhkan mahasiswa saat masuk dunia dunia industri adalah kemampuan dasar untuk survive. Sementara keterampilan yang terlalu teknis dan repetitif akan diambil alih oleh mesin dan robot seiring dengan masuknya era revolusi industri 4.0.

“Kompetensi dari manusia itu harus dinaikkan menjadi pengambil keputusan, men-design, planning, kemampuan kreativitas. Karena hal itu tidak akan bisa dilakukan oleh mesin. Sedangkan keterampilan yang bersifat teknis dan repetitif akan diambil alih mesin,” ujarnya.

Prasetyantoko juga mengulas tentang kesenjangan digital di Indonesia yang sangat tinggi, meski sudah memasuki era revolusi industri 4.0. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengoptimalkan teknologi digital dan infrastruktur.

Temasek dan Google memprediksi, pertumbuhan ekonomi internet di Indonesia pada 2018 mencapai 27 miliar dolar dan diprediksi akan terus tumbuh mencapai 100 miliar dolar pada 2025. “Prediksi itu menjadi peluang yang baik jika tantangan Indonesia dalam menghadapi industri 4.0 dapat diatasi,” katanya.

Ditambahkan, pihaknya mendukung pemerintah dengan berkontribusi secara signifikan terhadap isu kebijakan publik melalui tiga pilar, yaitu akademik, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Menurut Prasetyantoko, pesatnya kemajuan teknologi di bidang artificial intelliigence (AI) dan Internet of things bukan saja menghadirkan isu SDM, tapi juga bagaimana teknologi dikembangkan untuk memecahkan masalah sosial di Indonesia. Salah satu solusi bagaimana memperkuat program melek digital atau digital literacy.

“Unika Atma Jaya akan berkontribusi dalam membangun Indonesia untuk siap menghadapi revolusi industri 4.0,” ucapnya menegaskan.

Prasetyantoko meyakini, teknologi bersifat netral, sehingga diperlukan desain kelembagaan agar teknologi bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial. Disebutkan, antara lain, peningkatan kapasitas pemasaran usaha mikro kecil menengah melalui e-commerce, peningkatan akses keuangan melalui financial techology, inklusifitas akses pendidikan melalui pembelajaran daring, dan sebagainya.

Pada kesempatan yang sama, Unika Atma Jaya memberi penghargaan kepada sivitas Unika Atma Jaya yang berkontribusi terhadap penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Asmin Fransiska, Kepala LPPM Unika Atma Jaya menambahkan, penghargaan kepada dosen yang memenuhi kriteria penilaian dari data dan laporan kinerja dosen dari Unit/Pusat/Fakultas.

“Harapan kami penghargaan ini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas bidang unggulan penelitian, publikasi, serta kemitraan,” kata Asmin menandaskan. (Tri Wahyuni)