KONFLIK LAUT CINA SELATAN
Purnomo Yusgiantoro: Indonesia Harus Lakukan Diplomasi Politik

0
(suarakarya.co.id/Dok Humas Purnomo Yusgiantoro Center)

JAKARTA (Suara Karya): Pendiri Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Prof Purnomo Yusgiantoro mengimbau pemerintah untuk melakukan diplomasi politik untuk menghadapi konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina). Hal ini dilakukan mengingat wilayah tersebut bersinggungan langsung dengan Laut Natuna, di mana terdapat lapangan gas milik Indonesia dan terbesar di pasifik.

“Pemerintah harus menyikapi masalah tersebut dengan soft power (diplomasi) dan bukan hard power. Ini dikarenakan Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut,” kata Purnomo dalam diskusi webinar bertajuk “Geopolitik Energi di Laut Cina Selatan: Kekuatan Diplomasi” yang disiarkan langsung melalui saluran YouTube resmi PYC, Sabtu  (20/6/2020).

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan 2014 & Duta Besar Indonesia untuk Jepang dan Federasi Micronesia 2010-2013 Muhammad Lutfi mengatakan bahwa dengan politik bebas aktif, Indonesia memiliki nilai tambah tersendiri dengan memanfaatkan peran diplomasi. Indonesia bisa tetap netral dengan mengedepankan dialog dan keterbukaan. Posisi Indonesia menjadi Center of Gravity karena tidak memilih salah satu konsep Open and Free Indo Pacific dari Amerika Serikat ataupun Belt Road Initiative dari Cina.

Sementara itu, Dosen FISIP UI & Menteri Sekretaris Kabinet Kerja 2014-2015 Andi Widjajanto menjelaskan kondisi di Laut Cina Selatan dilihat dari 3 variabel, yaitu (1) mengenai modernisasi persenjataan, (2) mengenai keamanan energi, dan (3) transisi hegemoni.

Pada akhir acara, Alexander Wibowo, selaku moderator, menyimpulkan paparan ketiga narasumber dan peran Indonesia pada konflik ini. Indonesia memiliki posisi yang strategis karena baik Amerika Serikat maupun Cina sangat membutuhkan peran Indonesia. Indonesia dapat mengambil keuntungan dengan meningkatkan investasi melalui pendekatan diplomasi khususnya diplomasi energi untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi Indonesia, secara khusus, pengelolaan energi di wilayah perbatasan Indonesia seperti di Natuna.

Untuk diketahui, pada kesempatan tersebut Chairperson PYC, Filda C. Yusgiantoro, juga mengumumkan pemenang lomba “PYC 4th Anniversary Paper Competition 2020” dan menginformasikan wajah baru website PYC (https://www.purnomoyusgiantorocenter.org/). (Pramuji)