Pusat Gambut Internasional, Dari Indonesia untuk Dunia

0

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Indonesia konsisten menjawab tantangan menjaga kelestarian ekosistem gambut. Selain melakukan langkah koreksi kebijakan, kini Indonesia memiliki International Tropical Peatland Centre (ITPC), yakni Pusat Lahan Gambut Tropis Internasional, di Bogor, Jawa Barat.

ITPC merupakan gagasan yang diinisiasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Hal tersebut, menjadi tempat rujukan informasi dan pusat pengetahuan berbagai negara dalam tata kelola gambut. Peresmiannya akan dilakukan di kantor Kementerian LHK, gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Menteri Lingkungan Hidup dari negara kaya gambut tropis, seperti Republik Kongo dan Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Erik Solheim, dipastikan hadir pada peresmian ITPC tersebut. Selain itu, juga akan hadir perwakilan dari instansi pemerintah, mitra internasional, sektor swasta, masyarakat sipil dan media.

”Pusat ekosistem gambut tropis ini akan menjadi tempat belajar bagi negara lain yang ingin mengetahui tentang wilayah gambut tropis dan bagaimana merestorasi, serta merawat gambut tropis bagi kepentingan masa depan lingkungan hidup dunia,” ujar Menteri Siti, dalam keterangan tertulisnya, kepada suarakarya.co.id, Senin (29/10/2018).

Selama ini, kata Menteri Siti, Indonesia memiliki banyak sekali hasil riset mengenai gambut. Nantinya riset-riset tersebut akan ditampilkan di pusat ekosistem gambut tropis tersebut. Inisiatif tata kelola gambut Indonesia, ditegaskan Menteri Siti, datang dari Presiden Joko Widodo. Inisiatif lainnya dari Presiden dan Wapres, adalah dengan mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG).

“Arahan Presiden dan Wapres, tata kelola gambut harus bisa diterima secara internasional, dan berkelas dunia. Makanya kemudian kita rancang struktur organisasi BRG yang seperti sekarang,” katanyai.

BRG harus berkonsentrasi pada tata kelola air, operation dan  maintenance infrastruktur kanal gambut. Selain itu riset internasional, serta dalam hubungan dan dukungan internasional. Bukan badan yang ‘gemuk ke bawah’ sampai ke daerah-daerah.

“Karena kalau kegiatan pengelolaan lahan dan kawasan sebetulnya sudah terbagi habis di tugas-tugas sektoral. Kita tidak  bermaksud mengeluarkan gambut dari kawasan,” kata Menteri Siti.

Jadi pendekatan terbentuknya BRG di Indonesia, juga harus  dipahami semua pihak dengan baik. Karenanya Menteri Siti juga sangat bersyukur, pada akhirnya dapat merealisasikan Pusat Gambut Tropis Internasional yang bisa menjadi rujukan pengetahuan bagi dunia.

“Kita akan pakai gedung KLHK yang saat ini sedang dipakai oleh CIFOR, dan CIFOR akan mendampingi perintisan Pusat gambut internasional ini,” ujarnya lebih lanjut.

Badan Pengembangan dan Inovasi Penelitian Kehutanan dan Lingkungan Indonesia (FOERDIA) bersama dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) di Bogor, akan berfungsi sebagai tuan rumah bagi sekretariat ITPC sementara.

Pemerintah Indonesia juga mengundang negara-negara gambut tropis lainnya, mitra sumber daya serta ilmuwan, pembangunan, dan kolaborator lain untuk bergabung dengan ITPC dalam meningkatkan pengetahuan dan melindungi melalui ekosistem di lingkungan kita bersama. (Gan)