PWI Jateng Ajak Media jadi Penjaga Kebeningan Bangsa

0
Ketua PWI Provinsi Jateng Amir Machmud NS (Foto: Dok)

SEMARANG (Suara Karya): Memasuki Tahun Politik 2019, Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah mengingatkan dunia kewartawanan dan media agar tetap menjadi penjaga kebeningan kehidupan bangsa.

Tantangan tersebut berangkat dari realitas betapa pada hampir sepanjang 2018, sejak Pemilu Presiden 2014, kehidupan bangsa yang beragam berbasis kebinekaan ini dirongrong oleh kecenderungan terjadinya faksionasi dan maraknya politik aliran.

Ketua PWI Provinsi Jateng Amir Machmud NS dalam Refleksi Akhir Tahun mengajak wartawan dan media untuk kembali menjalankan fungsi-fungsi dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Yakni fungsi informasi, edukasi, hiburan, dan kontrol sosial, dengan menghayati Kode Etik Jurnalistik.

Fungsi-fungsi tersebut memperkuat atmosfer pelaksanaan kemerdekaan berpendapat yang berpedoman pada tanggung jawab sosial.

“Kita tidak memungkiri, sejak Pilpres 2014 wartawan dan media banyak dituding sebagai salah satu elemen yang menjadi penyebab kesilangsengkarutan kehidupan bangsa. Seolah-olah memberi ruang berkembangnya anomali karena kekuatan-kekuatan kepentingan diberi kesempatan untuk mendominasi pembentukan opini publik,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Sabtu  (29/12/2018).

Dalam kondisi pertarungan politik yang mengeras ke dalam dua kubu besar seperti sekarang, Amir menekankan bahwa media selalu dihadapkan pada dikotomi pilihan etis. Akankah menyediakan lebih banyak ruang untuk berpikir waras atau sebaliknya memberi peluang bagi tumbuh kembangnya ketidakwarasan?

Apakah sajian produk media akan menciptakan atmosfer penjaga relasi kehidupan bangsa yang bening atau malah ikut terjebak dalam kubangan kekeruhan? Akankah wartawan dan media beriktikad untuk menjadi pilar keberagaman, atau justru memperkuat faksionasi kebangsaan?

Pilihan-pilihan tersebut, menurut Amir Machmud, merupakan dilema dalam memperkuat sikap etis. Wartawan dan media selalu dihadapkan pada keniscayaan etika substansial dan etika operasional, yang ujungnya adalah memutuskan langkah yang secara hati nurani bisa dipertanggungjawabkan.

Kompetensi dan Profesionalitas
Tahun Politik 2019, menurut Ketua PWI Jateng itu, berpotensi mengubukan para wartawan dan media ke dalam pilihan-pilihan politik yang terafiliasi. Dia menekankan pentingnya pilihan politik apa pun tetap dipedomani oleh semangat independensi dalam pelayanan informasi dan pendidikan politik kepada publik.

“Di sinilah tanggung jawab sosial kebangsaan itu dimaujudkan dalam praktik berjurnalistik dan bermedia,” ungkap Amir.

Untuk lingkup Jawa Tengah, dia mengajak para anggota PWI makin sadar untuk meningkatkan kompetensi dalam menjaga martabat profesionalisme wartawan.

“Kami dari Jawa Tengah memperkuat kepemimpinan Saudara Atal Sembiring Depari sebagai Ketua Umum PWI Pusat dalam menegakkan kompetensi dan profesionalitas, juga dalam membangun organisasi PWI,” demikian Amir Machmud. (Anggoro Oetomo)