Rektor UNJ Berikan Semangat, Eko Raih Medali Perak di Olimpiade Tokyo

0

JAKARTA (Suara Karya) : Rektor UNJ Prof.Dr. Komarudin, M.Si bangga mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Eko Yuli Irawan yang tampil di Olimpiade Tokyo, Minggu (25/7/2021) berhasil menyuguhkan medali perak di kelas 61 kg pada cabang angkat besi dengan angkatan total 302 kg.

Total angkatan 302 kg itu ditorehkan Eko Yuli melalui percobaan angkatan snatch 137 kg dan usaha clean and jerk seberat 165 kg. Eko Yuli kalah dari lifter asal China, Li Fabin yang meraih medali emas dengan total angkatan 313 kg.

“Saya bangga Eko sebagai mahasiswa UNJ menyuguhkan medali perak yang kedua kali bagi Indonesia di Olimpiade. Tampil di Olimpiade di Tokyo tentunya Eko sudah berusaha seoptimal mungkin. Namun yang maha kuasa masih mengijinkan Eko diurutan kedua dan meraih medali perak lagi,”tegas Rektor UNJ.

Dengan prestasi yang diraih Eko paparnya, membuktikan mahasiswa UNJ sudah mencapai prestasi dunia dicabang olahraga. Meski Rektor tahu prestrasi sebelumnya Eko sudah meraih medali perak dan perunggu di Olimpiade.

Pada kesempatan yang sama Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Dr. Abdul Sukur, M.Si. mengatakan, prestasi di Olimpiade yang dipersembahkan Eko bagi Indonesia dan UNJ khususnya bisa meningkatkan motivasi mahasiswa lainnya untuk menggapai pentas dunia. Dengan begitu mahasiswa UNJ
selain membawa nama harum Indonesia dibelahan dunia, juga membawa nama baik UNJ.

Melalui prestasi itu pula Wakil Rektor 3
mengucapkan terima kasih pada pelatih yang mendampingi dan para Dosen pembimbing serta semua dukungan semangat dan Do’a dari seluruh masyarakat Indonesia. Atas keberhasilan itu, Eko dapat membuktikan lifter Indonesia di kelas 61 kg putra cukup disegani lawan.

Sementara Wakil Ketua pengurus angkat besi Indonesia Joko Pramono mengatakan, Eko Yuli yang turun di kelas 61 kg itu sukses menyabet medali perak dengan total angkatan 302 kg.

Joko menceritakan, tampil di Grup A kelas 61 kg, Eko Yuli berhasil melalui percobaan pada snatch pertamanya. Eko Yuli yang langsung mencoba mengangkat beban 137 kg itu sukses melaluinya dengan sempurna di cobaan pertama.

Penantang terkuat Eko Yuli, yakni atlet angkat besi dari China, Li Fabin juga mencoba untuk langsung mengangkat besi dengan berat 137 kg. Namun, Li Fabin justru gagal di percobaan pertamanya mengangkat di angkatan 137 kg.

Li Fabin baru sukses mengangkat beban 137 kg di percobaan kedua. Sementara di percobaan kedua Eko Yuli, ia memutuskan untuk langsung mengetes mengangkat beban 141 kg.

Sayangnya saat mencoba mengangkat beban 141 kg, Eko Yuli justru gagal setelah sempat cukup lama mengambil ancang-ancang. Pada percobaan terakhirnya, Eko Yuli lagi-lagi gagal mengangkat beban 141 kg.

Alhasil, Eko Yuli harus puas mengakhiri angkatan snatch di angka 137 kg. Ia berada di urutan kedua pada sesi snatch lantaran Li Fabin sukses mengangkat 141 kg di percobaan ketiganya.

Menurutnya, hasil di angkatan snatch itu menyulitkan Eko Yuli untuk meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Pasalnya ada perbedaan 4 kg yang harus dikejar Eko Yuli untuk bisa menyamai total Li Fabin di angkatan clean and jerk.

Pada percobaan pertamanya di angkatan clean and jerk, Eko Yuli sukses mengangkat 165 kg. Lalu di tes kedua, di mana berat beban menjadi 177 kg, Eko Yuli justru gagal.

Sementara itu, Li Fabin pada percobaan kedua berhasil mengangkat beban 172 kg dan itu membuatnya sukses memecahkan rekor di ajang Olimpiade.

Pada percobaan terakhirnya, Eko Yuli lagi-lagi gagal mengangkat 177 kg. Alhasil, medali perak menjadi hasil terbaik yang bisa diraih Eko Yuli. Sedangkan Li Fabin di percobaan ketiga juga gagal mengangkat beban 178 kg, namun hasil itu tetap membuatnya berhak membawa medali emas.

Dengan begitu, Eko Yuli pun membawa pulang medali perak dari Olimpiade Tokyo 2020. Lalu medali emas menjadi milik atlet China, Li Fabin dan perunggu diperoleh oleh lifter asal Kazakhstan, yakni Son Igor.
(Warso)