Renovasi Pasar Kranji Baru Tersorot, Pembangunan Jangan Berdampak Singkirkan Pedagang

0
Imam Maliki Rabili, pengagas Creative Center dilatar belakang Gedung Creative Center yang sedang dibangun di Kota Bekasi, Jabar. (Suarakarya.co.id/dra)

KOTA BEKASI (Suara Karya): Pembangunan Pasar Kranji Baru Bekasi Barat, Kota Bekasi terus menjadi perhatian dan sorotan publik. Diingatkan pihak-pihak yang berwenang agar melibatkan pegadang dan tidak ada dari mereka yang ditinggalkan dalam pembangunan atau renovasi pasar, sehingga keputusan yang diambil tidak merugikan pedagang. Jangan sampai berdampak menyingkirkan pedagang dari tempat usaha mereka di pasar.

Pendapat itu mengemuka dalam diskusi bertajuk, Pembangunan dan Keberadaan Pedagang di Pasar, bersama Penggagas Creative Center yang juga mengawal program Jabar Juara, Imam Maliki Rabili, di tengah kesibukannya dalam pembangunan Gedung Kreatif Center di di Kota Bekasi, Selasa (1/12/20).

“Meniru Gubernur Jabar Ridwan Kamil, ajak pedagang dialog, seperti di Pasar Kranji Baru Bekasi Barat agar mereka yang sudah lama berusaha di pasar tersebut tidak ada yang ditinggalkan (baik dalam penyampaian aspirasi maupun dalam keberadaannya di pasar),” kata Imam Maliki Rabili.

Pasar sebagai tempat berusaha bagi pedagang sebagai pelaku ekonomi juga menjadi salah satu sumber dalam peningkatan pendapatan daerah. Kata dia, pedagang yang sudah berusaha di pasar juga bagian dari pihak yang memperkuat perekonomian secara lebih luas.

“Pembangunan sebuah keniscayaan, namun jangan sampai berdampak buruk bagi masyarakat dan pedagang khususnya dalam hal pembangunan pasar,” tegasnya.

Maliki mengungkapkan, pasar tidak dapat dipisahkan dari pedagang. Mereka berusaha di pasar itu menginginkan dapat penghasilan untuk kehidupan keluarga mereka. Lebih lagi, mereka juga menginginkan perkembangan dari usaha-usaha mereka di pasar.

“Mereka mengandalkan kehidupan di sana (pasar) dan akan terus menurus berada di pasar jangan membebaninya lagi dengan ketentuan-ketentuan yang menekan mereka. Kasih ruang mereka bersusaha (jangan malah mereka kemudian tesingkir karena pembangunan pasar itu sendiri), agar mereka maju dan berkembang,” kata dia.

Dalam perumpamaan, Maliki mengibaratkan orang yang berlari sudah sampai pada titik tertentu namun jangan dikembalikan lagi mereka ke titik sebelumnya tempat mereka memulai berlari atau berdagang di pasar tersebut.

“Ibarat org berlari sudah sampai dititik empat jangan balik ke titik dua. Pedagang ataupun masyarakat punya harapan yang lebih baik dari sebelumnya,” ucap Maliki yang juga ketua Granat Kota Bekasi.

Apa artinya, “Jadi ada kenyamanan semua pihak. Pembeli enak, pedagang punya ruang untuk berusaha dan pembeli yang datang ke pasar menjadi senang,” kata dia seperti mengingkatkan semua pihak baik dari unsur pemerintah, developer, dinas pasar, unit pasar maupun pihak-pihak lain terkait pedagang di pasar.

Seperti di Pasar Kranji Baru, Bekasi Barat Kota Bekasi, menurut Miliki pihak-pihak yang terlibat tersebut melakukan pembangunan pasar itu bekerja sesuai tanggungjawab dan tidak memaksakan keinginan satu pihak seperti unsur pemerintah, developer dan lainnya kepada kepada pihak pedagang.

“Semua sama-sama cari untung, cari berkah, tidak elok ada pihak yang melakukan penekakan-penekanan kepada pihak lain di pasar. Sasarannya jelas, pedagang yang hiudpnya memang di pasar,” kata dia.

Miliki yang dijuluki “Gubernur KW” kembali mengacu pada Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengenai pembangunan. “Saya dapat dari Kang Emil itu, pembangunan negeri itu jangan sampai ‘brisik’ (jangan banyak permasalahan) namun hasilnya dirasakan masyarakat,” ucapnya. (dra)