Riset Bioplastik PPBBI Ditaksir Industri, Jadi Solusi Hadapi Sampah Plastik?

0

JAKARTA (Suara Karya): Riset bioplastik yang dikembangkan Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) Bogor banyak menarik perhatian kalangan industri dalam acara promosi hasil penelitian digelar Asosiasi Inventor Indonesia (AII) dan didukung Badan secara daring, Rabu (30/3/22).

Pasalnya, bioplastik yang memanfaatkan sampah kelapa sawit itu bisa terurai secara alami saat tak lagi terpakai. Temuan tersebut diyakini Ketua Umum AII, Prof Didiek Hadjar Goenadi dapat menjadi solusi dalam penanganan sampah plastik di Tanah Air.

“Tadi ada beberapa industri yang tertarik dengan riset bioplastik. Kami akan bantu pertemukan investor dengan inventornya agar produk itu bisa dikomersialisasikan, dan berguna bagi bangsa dan negara,” ucap Prof Didiek dalam acara bertajuk ‘Penguatan Industri Kelapa Sawit Berbasis Teknologi Baru’ tersebut.

Prof Didiek menegaskan, pihaknya tidak akan mengambil keuntungan dari hasil pertemuan investor dan inventor. Karena hal itu merupakan salah satu tugas AII, yaitu mendorong inventor dengan TRL (Tingkat Kesiapterapan Teknologi) 7 untuk menyeberang ke-8 dan ke-9 dengan dukungan dari industri.

Ditambahkan, bioplastik merupakan satu dari 13 riset yang sudah selesai dan layak dipromosikan kepada industri. Penelitian itu didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melalui Program Grand Riset Sawit 2015-2019.

Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan dan Civil Society Badan Layanan Umum (BLU) BPDPKS Aida Fitria menjelaskan, kelapa sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis nasional sangat membutuhkan penelitian dan pengembangan.

“Kegiatan riset ini menjadi penting untuk pengembangan industri kelapa sawit nasional yang berkelanjutan. Sekaligus menjadi bahan pengambil kebijakan pemerintah dalam melawan kampanye hitam terhadap sawit,” katanya.

Aida menambahkan, program riset kelapa sawit dilakukan sejak 2015 hingga 2021. BPDPKS telah mendanai 840 peneliti, 346 mahasiswa, dan 69 lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) dengan hasil 234 kontrak kerja sama, 6 buku, 213 publikasi ilmiah dan 42 paten.

“Acara ini menjadi salah satu sarana untuk mendiseminasikan program unggulan BPDPKS yang berdampak positif terhadap perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia yang didukung dari sisi riset,” ucapnya.

Hadir sebagai penanggap dalam diseminasi hasil 13 penelitian ini, yaitu Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono; Bupati Banyumas Achmad Husein; dan mantan Ketua Kadin (Kamar Dagang Indonesia) Sumatera Selatan, Ahmad Rizal.

Ke-13 hasil penelitian yang terpilih, yaitu:
Pertama, lawan serangan jamur ganoderma pada kelapa sawit dengan drone oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Kedua, dari limbah kelapa sawit jadi material hebat nano crystal oleh LPPM ITB.

Ketiga, plastik dari limbah sawit yang nisa terurai alami dari PPBBI Bogor. Keempat, busa pemadam kebakaran dari minyak sawit oleh LPPM IPB. Kelima, timah organik dari residu minyak sawit membuat pipa PVC bebas timbal oleh LPPM ITB. Keenam, dari biomassa ke oioreneri menjadi bioenergi oleh LPPM FT-UI.

Selain itu, masih ada riset tentang kayu lapis dari batang pohon sawit oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Kedelapan, kilang nabati mengubah batang pohon sawit jadi gula dan karbohidrat. Kesembilan, produksi suplemen pakan ternak lemak lalsium berbahan baku PFAD” oleh LPPM ITB.

Kesepuluh adalah MDAG bahan makanan sehat berbasis sawit oleh Seafast Center-LPPM IPB. Kesebelas, berkat bio-silika kelapa sawit lebih vigor dan tahan kekeringan” oleh Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia. Keduabelas, revolusi cara menentukan waktu panen kelapa sawit oleh Universitas Andalas. Dan terakhir, sortir dan grading cepat buah sawit dengan pencitraan sektral oleh LPPM Universitas Riau. (Tri Wahyuni)