Rokan Siap Hidupkan Kembali Lahan Sawit Terbengkalai

0

JAKARTA (Suara Karya): Perusahaan Rokan Bono Malaka (RBM) siap mengaktifkan kembali lahan-lahan yang sempat terbengkalai dengan kelapa sawit. Sekarang tengah dimatangkan prosesnya, termasuk mengundang investor atau bank untuk pembiayaan. Hal itu dikemukakan Presiden Direktur RBM, Rustian di Jakarta, Senin (19/1/21)

Dijelaskan, RBM sejauh ini memiliki lahan sedikitnya 140 ribu hektare yang tersebar di Bengkulu dan Kalimantan Barat. Semula lahan tersebut akan ditanami kelapa sawit. Mimpi Rustian adalah menjadikan sawit tuan rumah di Indonesia.

“Sawit kita hingga saat ini belum menjadi tuan rumah. Sebab mayoritas sawit masih dimiliki asing,” ujarnya.

Bahkan Malaysia, lanjut Rustian, menanam sawit di Indonesia sekaligus membawa bank pendukungnya. Ada CIMB atau Maybank. Sehingga asing terlalu banyak menguasai sawit nasional. “Sudah waktunya bangsa Indonesia mengelola sendiri industri sawitnya,” usulnya.

Rustian memang sempat terhenti membangun industri sawit nasional karena ada surat kaleng lewat Kotak Pos 5.000, sehingga dia harus menghadapi masalah hukum. Namun dengan kesabaran dan ketaatan hukum, masalah tersebut selesai, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

“Saya ikuti seluruh prosedur hukum sampai selesai. Ini harus menjadi contoh bagi generasi muda. Jangan menyogok saat terkena masalah hukum. Ikuti saja. Kalau tidak kalah, pasti akan menang dan bebas. Itulah yang saya tempuh,” ucap pria kelahiran Bagan Siapi-api itu.

Rustian dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) 8 tahun, diputus 5 tahun oleh Pengadilan Negeri (PN) dan dikuatkan di Pengadilan Tinggi (PT). Tapi dia menang di Mahkamah Agung (MA). “Istilahnya kalah dua kali, menang sekali,” ujarnya berseloroh. Dia tidak kabur seperti pengusaha-pengusaha lain.

Rustian belajar kejujuran, termasuk mengikuti aturan hukum, tanpa menyuap karena pergaulan dengan orang-orang internasional, terutama staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka mengajarkan kejujuran. Maka Rustian pun berlaku jujur dalam mengikuti proses hukum, tanpa menyuap sepeser pun.

Dia ingin meninggalkan legacy (warisan) untuk menghentikan sogok-menyogok dalam masalah hukum yang sekarang marak. “Hentikan suap-menyuap, saat terkena masalah hukum,” ujarnya.

Oleh mendiang mantan Bupati Kapuas Hulu, M Djapari, Rustian diberi julukan “Pengusaha Pejuang” lantaran banyak memperjuangkan nasib rakyat kecil, sebelum mengalami masalah hukum.

Rustian juga banyak membantu Presiden Soeharto. Maka ketika dia minta izin agar Soedibyo Rahardjo yang waktu itu masih Laksamana Muda untuk menjadi komisaris Rokan, Soeharto hanya tersenyum, tidak mengiyakan atau melarang. Tapi kelak, usulan Rustian agar Soedibyo dijadikan Kasum ABRI dikabulkan.

Malahan Soedibyo diangkat menjadi Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Stabilitas Nasional (Bakorstanas). Organisasi itu dipimpin Panglima ABRI. Tapi kegiatan sehari-harinya dipegang Sekretaris Bakorstanas yang dijabat Kasum ABRI, Soedibyo.

Kepala Sekretariat Bakorstanas membawahi tiga kepala staf TNI, yaitu Kapolri, sekjen-sekjen di kementerian eksekutif dan yudikatif. (Tri Wahyuni)