RS Siloam Bonjer Kenalkan UKA untuk Atasi Nyeri Lutut

0

JAKARTA (Suara Karya): Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, pasien osteoartritis atau nyeri lutut kini tak perlu lagi tergantung pada obat-obatan penghilang nyeri. Lewat operasi Unicompartmental Knee Anthroplasty (UKA), pasien dapat kembali berjalan secara nyaman.

“Pada UKA, dokter hanya mengganti bantalan sendi yang rusak. Hasilnya dirasakan lebih alami, karena 75 persen bantalan sendi masih asli,” kata Kepala Divisi Hip, Knee and Geriatric Trauma (HKGT), Orthopaedic Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Franky Hartono dalam acara patient gathering di RS Siloam Kebon Jeruk (Bonjer) Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Hadir dalam kesempatan itu tim dokter dari HKGT Orthopaedic Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Karina Besinga dan Daniel Marpaung.

Dokter Franky menjelaskan, UKA bukan sesuatu yang baru di dunia kedokteran. Teknologi itu sudah diterapkan Oxford Unicompartmental Knee System sejak 1976 dan terus berkembang hingga saat ini mencapai model generasi ketiga.

“Teknik ini memiliki banyak kelebihan karena biasanya hanya membuang 25 persen sendi lutut yang rusak. Pasien cepat sembuh, karena lukanya lebih kecil sehingga minim pendarahan. Dalam 1-2 hari pasien bisa mulai latihan jalan,” tuturnya.

Menurut Franky, hampir sebagian besar pasien mengaku puas terhadap UKA. Pergerakan lutut dirasakan lebih nyaman karena 75 persen sendi masih asli. Kemampuan lutut untuk menekuk lebih luas, bahkan saat bersila, jongkok maupun olahraga low-impact.

“Studi terhadap UKA di banyak negara menunjukkan hasil ketahanan implan mencapai 96 persen pada 1.000 pasien dalam 10 tahun terakhir, 94 persen pada 15 tahun, dan 91 persen dalam 20 tahun. Tindakan ini cocok untuk penderita osteoartritis dengan gangguan di bagian tengah lutut yang masih ingin bergerak aktif,” katanya.

Sebelum UKA, lanjut Franky, tindakan penggantian sendi yang rusak dilakukan dengan teknik total knee arthoplasty (TKA) atau mengganti seluruh sendi lutut dengan implan. Padahal rata-rata pasien masih memiliki sebagian bantalan sendi yang masih sehat.

“Meski tak lagi alami nyeri, banyak pasien TKA yang mengaku tak nyaman dengan sendi barunya itu. Beda dengan UKA yang masih menggunakan 75 persen sendi lututnya yang masih sehat,” ucapnya.

Karina menambahkan, osteoartritis tidak bisa dihindari karena hal itu merupakan bagian dari proses penuaan tubuh. Badan kesehatan dunia (PBB) memperkirakan pada 2050 akan ada 130 juta orang di seluruh dunia yang terkena osteoartritis. Dari jumlah itu diperkirakan ada 40 juta yang mengalami kecacatan.

“Kalau di Indonesia, data Kementerian Kesehatan 2017 mencatat ada 1 dari 3 penduduk usia lanjut mengalami osteoartritis atau pengapuran. Umumnya kondisi itu terjadi pada sendi lutut,” katanya.

Ditambahkan, osteoartritis dapat terjadi pada semua sendi di tubuh. Namun, sendi yang paling cepat aus pada lutut, akibat menopang bagian atas tubuh saat berjalan. “Tulang rawan yang menipis akan menyebabkan tulang dalam sendi bersentuhan. Dampaknya lutut menjadi nyeri, bengkak, kaku dan sulit bergerak,” katanya.

Kondisi itu, menurut Karina, tak boleh diabaikan. Bantalan sendi yang rusak harus segera ditangani, agar tak merembet ke bagian yang sehat. “Dengan UKA, sendi yang masih sehat bisa bertahan lebih lama,” kata Karina menandaskan.

Sebagai informasi, tim dokter HKGT sejak awal berdiri pada 2015 telah melayani lebih dari 23 ribu pasien. Dari jumlah itu, ada sekitar 1.500 pasien menjalani operasi baik TKA maupun UKA. (Tri Wahyuni)