RSUD Bali Mandara Terpilih Jadi Pusat Rujukan Kanker Regional Timur

0

BALI (Suara Karya): Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bali Mandara akan menjadi Pusat Rujukan Kanker untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Upaya itu diharapkan dapat terealisasikan pada 2020.

“Pembangunan pusat kanker ini sebagai akses bagi masyarakat Bali atau wilayah Indonesia bagian timur terhadap akses atas pengobatan kanker,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya dalam penjelasannya di RS Bali Mandara, Selasa (23/4).

Suarjaya menyebut selama ini pelayanan untuk kanker hanya bisa dilakukan di RSUP Sanglah Bali dengan antrean panjang untuk radiologi dan kemoterapi. Padahal pengobatan kanker harus dilakukan sesegera mungkin.

“Jumlah kasus di Bali dengan layanan radiasi dan kemoterapi baru tersedia di RS Sanglah. Antreannya luar biasa panjang. Bahkan sampai satu tahun baru bisa dapat kemoterapi,” ujarnya.

Direktur Utama RSUD Bali, Mandara Gede Bagus Darmayasa menjelaskan proyek layanan kanker terpadu sudah mulai dilaksanakan pada tahun ini. Rencananya, target operasi dilakukan pada 2020.

“Kami sebenarnya dapat bantuan dari RS Royal Darwin, Australia. Namun, hingga kini kerja sama belum bisa dilaksanakan karena urusan teknis. Kerja sama harus dilakukan dengan mekanisme G to G atau antar pemerintah,” tuturnya.

Ditambahkan, layanan kesehatan kanker terpadu nantinya tidak hanya fokus pada pengobatan atau kuratif, tetapi juga menekankan pada program deteksi dini agar bisa lebih cepat mengobati.

“Tidak hanya pengobatan kanker, tapi juga deteksi dini baik di rumah sakit maupun di lapangan melalui tes semacam Iva, mamografi. Dengan cara itu, kasus lebih cepat ditemukan. Dan pasien dapat segera dapat pengobatan. Semakin cepat ditemukan kankernya, semakin tinggi peluang sembuhnya,” ucap pria yang hobis melukis itu.

Lewat pembangunan layanan kanker terpadu RS Bali Mandara diharapkan bisa melayani pasien penyakit kanker lebih luas, dengan estimasi sekitar 100 pasien setiap harinya. Dengan demikian peluang hidup penderita kanker makin tinggi.

Merujuk hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 disebutkan, prevalensi kanker naik dari 1,4 persen di 2013 menjadikan 1,8 persen. Kasus kanker tertinggi adalah payudara, serviks, paru, dan seterusnya. (Tri Wahyuni)