Rudiantara: Kesenjangan Digital Antar Daerah Jadi Fokus Pemerintah

0
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (Suarakarya.co.id/istimewa)

PADANG (Suara Karya): Pemerintah terus berupaya mengurangi kesenjangan digital antar daerah di Indonesia. Penyediaan akses internet dan seluler akan dibangun hingga ke pelosok.

“Dengan demikian, masyarakat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memgembangkan potensi diri,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam kuliah umum di Universitas Negeri Padang (UNP), Padang, Sumatera Barat, Kamis (11/4/2019).

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, Rektor UNP Ganefri serta Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), Anang Latif.

Diakhir acara, Rudiantara melakukan telekonferensi dengan Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet terkait pemanfaatan Base Transceiver Station (BTS) dan akses internet di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Fasilitas tersebut disediakan oleh BAKTI.

Menkominfo Rudiantara menambahkan, pembangunan infrastruktur menjadi fokus perhatian dari Pemerintahan Joko Widodo. Termasuk pembangunan infrastruktur untuk telekomunikasi, baik seluler maupun internet.

“Pemerintah terus membangun sarana dan prasarana telekomunikasi di wilayah 3T (terluar, tertinggal dan terdepan). Kalau bukan pemerintah, siapa yang akan membangun. Karena wilayah perbatasan, secara finansial tidak menarik bagi swasta untuk dikelola,” tuturnya.

Karena itu, lanjut Rudiantara, pembangunan akses internet di wilayah 3T oleh pemerintah sejak 2015 berhasil meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di wilayah tersebut. Hal itu terlihat pada kelancaran pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Salah satunya di Kabupaten Mentawai.

“Lewat layanan internet dari BAKTI ini, kami harap siswa dan masyarakat dapat mengembangkan diri melalui aplikasi-aplikasi di internet yang bersifat edukatif,” ujarnya.

Disebutkan, akses internet BAKTI yang tersedia di Kabupaten Mentawai hingga saat ini tercatat ada di 183 titik dan 33 titik lokasi BTS,” katanya.

Menyadari penyediaan infrastruktur perlu diimbangi dengan penguatan literasi masyarakat dan ekosistem digital, Dirut BAKTI, Anang Latif mengatakan, pihaknya mengembangkan aplikasi belajar bahasa Inggris online bernama “Bahaso” untuk siswa SMA di Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai.

“Inisiasi ini telah dilakukan BAKTI sejak 2018 lalu, dengan jumlah peserta mencapai 2.600 siswa. Program tersebut dilaksanakan di 5 kabupaten/kota yaitu di Bima, Nusa Tenggara Barat; Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur; Yogyakarta dan Solok, Sumatera Barat.

“BAKTI berkomitmen untuk melayani masyarakat di wilayah 3T melalui kombinasi teknologi telekomunikasi agar lembaga penting seperti sekolah, Puskesmas, kantor pemerintah daerah, kantor kepolisian serta kantor komando pertahanan dan keamanan dapat memperoleh internet cepat,” tutur Anang.

Dengan adanya internet dan aplikasi yang dijalankan, menurut Anang, banyak kemudahan yang diperoleh masyarakat. Misalkan, akses terhadap layanan kesehatan yang makin cepat. Masyarakat juga menjadi makmur.

Sebagai informasi, BAKTI merupakan badan layanan umum di bawah Kemenkominfo yang melaksanakan pengelolaan pembiayaan kewajiban pelayanan universal dan penyediaan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dan informatika. (Tri Wahyuni)