Rumor Penyebaran Virus Via Terompet, Penjualan Anjlok

0
Pengrajin terompet memproduksi untuk persiapan menyambut Tahun Baru 2019 di Kampung Mojo Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Solo, Selasa (11/12/2018). (Ist)

SOLO (Suara Karya): Pengrajin terompet Kampung Mojo, Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, mengeluh karena omzet penjualannya turun drastis kendati perayaan Natal dan Tahun Baru 2019 kian mendekat.

Warseno (45), pengrajin terompet di Kampung Mojo RT 02 RW 04 Semanggi, Selasa (11/12/2018), mengatakan biasanya menjelang pertengahan akhir tahun pesanan terompet mencapai 10.000 buah, namun saat ini hanya 1.500 terompet.

Bahkan, kata Warseno, produksi terompet buatannya pada tahun-tahun sebelumnya pernah mencapai 150.000 buah dengan omzet sekitar Rp40 juta. Namun, produksi terompet hingga menjelang Desember 2018 hanya sekitar 1.500 buah.

“Biasanya pesanan berdatangan mulai Oktober hingga Desember, namun hingga menjelang pertengahan Desember 2018 masih tetap sepi,” kata Warseno.

Warseno yang menekuni bisnis terompet sejak 1989 hingga sekarang mengaku selama bertahun-tahun tidak pernah mengalami kelesuan seperti sekarang, apalagi produknya juga dipasarkan hingga Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Pulau Jawa.

Menurut dia, rumor penyebaran virus melalui terompet di media sosial menjadi salah satu sebab anjloknya permintaan terompet yang diproduksi. Terompet dia banyak dijual di pinggir jalan dan banyak orang meniup untuk mencoba jika akan membeli terompet.

“Isu penyebaran virus melalui terompet ini menyebabkan permintaan menurun dratis,” kata, pria asal Bulukerto Wonogiri.

Menurut dia, usaha kerajinan terompet ini merupakan warisan usaha orang tuanya. “Bapak saya dahulu juga usaha kerajinan terompet dan saya bersama istri melanjutkan hingga sekarang,” katanya.

Soal bahan baku kertas karton, hologram, dan lem dengan mudah dicari di Solo, namun kini juga mulai ada kenaikan harga meski kenaikkannya masih wajar sekitar Rp5.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

“Kemampuan produksi, dengan dibantu istri, rata-rata sekitar 4.000 terompet per bulan, baik kualitas biasa hingga bentuk ular naga. Harga dijual mulai Rp5.000 perbu hingga Rp20.000 per buah,” katanya

Menurut Warseno, akibat sepinya pesanan menyebabkan produksi terompet tahun ini maka ia hanya mengeluarkan modal kurang dari Rp5 juta, dengan keuntungkan sekitar 30 persen. (Budiono Tejaumbaran)