Sambut HAN, KBRI Tokyo Beri Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah

0

JAKARTA (Suara Karya): Menyambut Hari Anak Nasional, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang memberi pelatihan virtual tentang kesiapsiagaan bencana di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).

“Keterampilan tersebut penting, karena menjadi salah satu indikator kabupaten/kota layak anak,” kata Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Tokyo, Nuning Heri Akhmadi saat membuka webinar bertajuk ‘Sekolahku Siaga Aman Bencana’, Kamis (22/7/21).

Apalagi, lanjut Nuning, Jepang adalah salah satu negara yang terkenal memiliki kesiapsiagaan bencana terbaik di dunia. Karena itu, SRIT selalu bekerja sama pemerintah setempat melaksanakan pelatihan dan simulasi darurat bencana setiap tahunnya.

“Sayangnya, akibat pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Jepang, kegiatan tersebut tak dapat dilaksanakan sejak tahun lalu,” ujarnya.

Ditambahkan, pelatihan virtual tersebut tak hanya diikuti warga negara Indonesia (WNI) di Jepang, tetapi juga di negara lain di dunia. Sehingga mereka bisa lebih siap dalam menghadapi bencana yang biasanya datang secara tiba-tiba.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang, Heri Akhmadi mengemukakan, belajar tentang penanggulangan bencana dari Jepang adalah sumber yang paling tepat.

“Di Jepang, kesadaran akan kesiapsiagaan bencana sudah ditanamkan sejak taman kanak-kanak hingga tingkat yang paling tinggi. Untuk itu, praktik penanggulangan bencana oleh Jepang bisa menjadi contoh yang baik bagi kita,” katanya.

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Tokyo, Yusli Wardiatno mengatakan, acara tersebut merupakan bagian dari upaya KBRI Tokyo dalam melakukan kajian ulang terhadap keamanan gedung sekolah bagi siswa, guru, tenaga kependidikan dan semua pemangku kepentingan, khususnya di SRIT.

“Keamanan adalah prioritas di sekolah. Kami sudah minta ahli mitigasi bencana yang juga narasumber dalam webinar untuk melakukan asesmen ulang di SRIT. Hasilnya akan diterapkan secara bertahap,” ujarnya.

Webinar juga menampilkan pesan video dari salah seorang Anggota Dewan Kota Meguro, Tokyo, Kanako Kobayashi. Ia menyatakan, Jepang yang dikenal sebagai negara metropolitan sebenarnya rentan terhadap bencana. “Kota Tokyo memiliki peluang 70 persen mengalami gempa dalam 30 tahun terakhir ini. Kondisi ini sangat menakutkan,” ucapnya.

Kanako Kobayashi menambahkan, pelatihan siaga bencana di Jepang dilakukan secara berkesinambungan. Pemerintah Jepang memiliki program latihan siaga bencana bagi seluruh jenjang pendidikan yang diberikan secara rutin. Pelatihan tersebut mencakup bencana gempa, angin topan, tsunami, kebakaran, banjir, hingga melarikan diri dari orang yang mencurigakan.

Pelatihan yang sama juga diberikan kepada warga SRIT. Para siswa diajarkan bagaimana cara menggunakan alat pemadam kebakaran. Hal itu tidak saja berlaku bagi siswa di sekolah jepang, karena Pemerintah Kota Meguro juga mengajarkan kepada siswa SRIT.

Narasumber dalam webinar, yaitu dosen Kobe University, Mizan Bustanul Fuady Bisri yang menjelaskan konsep ‘Comprehensive School Safety’ (CSS) yang berkembang baik di Jepang maupun universal. Konsep tersebuy memiliki 3 pilar penting, yaitu fasilitas pendidikan aman bencana, manajemen kebencanaan sekolah dan pendidikan pengurangan risiko bencana.

“Konsep CSS mendudukkan secara komprehensif bagaimana menciptakan fasilitas pendidikan yang aman dari bencana, tetapi pada saat yang sama juga berkontribusi mengurangi risiko bencana,” ujarnya.

Mizan Bisri mengemukakan, ada tujuan berbeda untuk setiap latihan atau drill siaga bencana di setiap jenjang pendidikan. “Untuk jenjang sekolah dasar, siswa diajarkan bagaimana melindungi diri, jenjang sekolah menengah ajarkan bagaimana melindungi diri dan menolong orang lain, jenjang sekolah yang lebih tinggi diajarkan tak hanya melindungi diri dan orang lain, tetapi juga bagaimana mengurangi risiko bencana,” katanya.

Narasumber kedua, yaitu pembina Sigap Keluarga Peduli Pendidikan (KerLIP) Indonesia, Yanti Sriyulianti menerangkan, jaminan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) harus komprehensif mencakup fase prabencana, penanganan situasi darurat dan pemulihan pascabencana.

“SPAB adalah sekolah yang memberi jaminan keamanan, keselamatan, kesehatan, kemudahan, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Standar keselamatan ketika anak ada di sekolah. Bagaimana hak anak atas rasa aman, selamat, nyaman dan sehat dapat dijamin oleh sekolah,” tuturnya.

Yanti menambahkan, beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan SPAB. Jika di tingkat keluarga, rencana kesiapsiagaan itu ada 12, sedangkan di satuan pendidikan ada 10 langkah. Dalam pelaksanaannya, 10 langkah itu dapat diintegrasikan dengan berbagai sektor bidang pendidikan dan kebencanaan.

Pada akhir acara, Kepala SRIT, Saidan membedu apresiasi atas suksesnya kegiatan webinar. Ia berharap sekitar 500 peserta yang hadir dapat mengambil manfaat dari webinar untuk menciptakan sekolah yang aman dan nyaman. (Tri Wahyuni)