Saudi: Rudal Houthi ke Kilang Aramco Dihancurkan

0
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menghadiri pertemuan anggota negara Koalisi untuk Mendukung Legitimasi di Yaman, di Riyadh, Arab Saudi, Minggu (29/10/2017). (Reuters)

BUBAI (Suara Karya): Gerakan bersenjata Houthi di Yaman menyatakan meluncurkan peluru kendali balistik ke kilang minyak Aramco di Arab Saudi pada Jumat.

Tetapi, pasukan pertahanan udara Saudi mengatakan mencegat dan menghancurkan proyektil peluru kendali itu.

Stasiun TV al-Masirah milik Houthi mengatakan pasukan Houthi menyasar satu kilang di Jizan, di bagian barat daya Arab Saudi.

Kantor berita Saudi SPA, yang mengutip juru bicara sekutu pimpinan Saudi, yang berperang melawan kelompok Houthi di Yaman, mengatakan peluru kendali itu menuju kawasan permukiman dan dicegat di atas wilayah Jizan.

“Sejauh ini tak ada korban jiwa atau kerusakan ketika rudal itu dicegat,” kata Kolonel Turki al-Maliki.

Aramco belum menanggapi permintaan untuk memberi komentar, demikian Reuters melaporkan.

Houthi mengatakan serangan rudal atas kerajaan itu dilakukan sebagai balasan atas serangan-serangan udara terhadap Yaman koalisi dukungan Barat tersebut, yang memasuki perang Yaman tahun 2015 untuk berusaha memulihkan pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dukungan Arab.

Koalisi itu telah melancarkan ribuan serangan udara di Yaman yang menghantam sekolah, pasar dan rumah sakit, membunuh ratusan orang, walaupun pihaknya menyatakan tidak menyasar warga.

Koalisi pimpinan Saudi telah menuntaskan pengepungan atas Hodeidah, kota pelabuhan Yaman, dan “pembebasan kota itu” akan menjadi kunci untuk menemukan “penyelesaian” bagi negara yang dicabik perang tersebut, kata seorang pejabat Uni Emirat Arab (UAE).

Menteri Negara Urusan Luar Negeri UAE Anwar Gargash di dalam pernyataan yang disiarkan di akun Twitternya pada Jumat (14/9) mengatakan, operasi di Hodeidah “berhasil mencapai sasarannya”.

Hodeidah, yang berada di pantai Laut Merah di bagian barat daya Yaman, memiliki kepentingan strategis sebab kota tersebut adalah gerbang ke luar Sanaa, ibu kota Yaman, yang telah diduduki gerilyawan Al-Houthi –yang didukung Iran– sejak September 2014.

Gargash juga mengatakan anggota milisi Syiah Al-Houthi membayar harga karena telah “absen dari konsultasi Jenewa”.

Pembicaraan perdamaian Jenewa untuk menemukan penyelesaian politik macet pada awal pekan lalu, sebab delegasi Al-Houthi tidak hadir. (M Chandra)