Sebabkan Parkinson, Hindari Paparan Obat Pembasmi Serangga

0

JAKARTA (Suara Karya): Obat pembasmi serangga yang dipergunakan orangtua untuk membunuh nyamuk, ternyata tak 100 persen aman bagi kesehatan. Zat organofosfat yang ada dalam obat tersebut menjadi penyebab terjadinya parkinson.

“Zat organofosfat yang terhirup terus menerus dapat mengganggu kerja sel dopamin dalam otak. Sel dopamin yang lemah menyebabkan parkinson,” kata dokter spesialis saraf dari Parkinson’s & Movement Disorder Center, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Frandy Susatia dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Frandy menambahkan, zat organofosfat tak hanya ada dalam obat pembasmi serangga yang ada di pasaran, tetapi juga ada pada pupuk cair, obat nyamuk bakar dan cat dinding.

“Beberapa studi menunjukkan parkinson banyak terkena pada petani, tukang cat dan orang-orang yang hariannya menggunakan obat nyamuk bakar dan semprotan obat serangga,” ujarnya.

Jika penggunaan obat pembasmi serangga tak terhindarkan, lanjut Frandy, biasakan memakai masker mulut dan hidung saat menyemprotkan bahan berbahaya itu. Lalu, segera tinggalkan lokasi guna meminimalkan paparan. “Tetap gunakan masker sampai efek organofosfat dirasakan berkurang,” kata dr Frandy.

Dijelaskan, parkinson tergolong penyakit degeneratif saraf yang biasa ditemukan pada orang berusia diatas 40 tahun. Penyakit itu terjadi akibat sel dopamin yang makin aus. Parkinson ditemukan pada orang yang lebih muda karena terkena paparan organofosfat dan faktor lainnya.

“Prevalensi parkinson di Indonesia akan makin tinggi, sebagai dampak dari bonus demografi. Penduduk usia tua semakin banyak, maka peluang terjadinya parkinson juga tinggi. Diperkirakan jumlahnya mencapai 6 persen dari total jumlah penduduk,” katanya.

Gejala parkinson yang paling sering dijumpai adalah tremor pada saat beristirahat di satu sisi badan, kesulitan memulai pergerakan dan kekakuan otot. Penyakit itu dapat menyerang siapa saja tanpa memandang ras, jenis kelamin, status sosial, maupun lokasi geografis.

“Jenis tremor sangat beragam. Salah satunya adalah essential tremor (ET) yang terjadi saat tubuh sedang bergerak. Misalkan, saat makan, minum, atau menulis. Kondisinya berkurang jika tubuh beristirahat. ET adalah kebalikan dari tremor pada parkinson yang terjadi saat tubuh beristirahat dan berkurang saat tubuh bergerak,” ujarnya.

Ditambahkan, pengobatan tremor untuk meringankan gejala dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Caranya dengan pemberian obat oral. Butuh 2-3 jenis obat berbeda sebelum menemukan obat yang bekerja paling baik di tubuh pasien.

“Jika obat oral gagal, solusi lainnya adalah suntik botulinum toxin (botox) ke dalam otot. Suntikan botox biasanya efektif pada pasien dengan tremor kepala dan suara,” katanya.

Namun, jika obat-obatan sudah tidak efektif, maka perlu dilakukan tindakan operasi stimulasi otak dalam atau Deep Brain Stimulation (DBS). Operasi DBS merupakan standar baku tindakan operasi yang telah diakui Food Drug Administration (FDA) Amerika untuk pengobatan essential tremor (ET), penyakit parkinson (PD), dystonia, dan obsessive compulsive disorder (sindrom Tourette).

”Setelah pemberian obat jangka panjang, maka obat dapat menjadi kurang efektif dan mempunyai efek samping. Operasi DBS memungkinkan sel dopamin dapat dirangsang untuk memproduksi dopamin dan bekerja optimal kembali. Sehingga gejala penyakit parkinson dapat diatasi dan dosis obat berkurang,” katanya.

Teknik operasi DBS dilakukan melalui penanaman elektroda atau chip pada area tertentu di otak bagian dalam. Elektroda atau chip tersebut dihubungkan dengan kabel ke baterai yang diletakkan di dalam dada sebagai sumber arus listrik.

“Rata-rata pasien merasakan peningkatan perbaikan motorik sekitar 75-87 persen setelah dioperasi pada keadaan tanpa obat,” kata Frandy menandaskan. (Tri Wahyuni)