SehatQ Bantu Pemerintah Edukasi Masyarakat soal Vaksinasi Covid-19

0

JAKARTA (Suara Karya): Perusahaan pemula (startup) bidang teknologi kesehatan, SehatQ akan membantu pemerintah untuk edukasi ke masyarakat terkait Program Vaksinasi Covid-19. Layanan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis.

“Ribuan pertanyaan soal vaksin Covid-19 diterima tim dokter SehatQ hingga saat ini. Hal itu mendorong kami untuk menggelar sejumlah webinar yang akan mengupas tuntas Program Vaksinasi Covid-19 yang digulirkan pemerintah,” kata CEO SehatQ, Linda Wijaya dalam keterangan pers secara virtual, Kamis (21/1/21).

Seri webinar yang digelar perdana pada Kamis (21/1/21) bekerja sama dengan Produsen vaksin Covid-19, PT Bio Farma itu bertajuk “Bagaimanakah Jaminan Keamanan dan Keefektifan Vaksin Covid-19?”

Dalam webinar tersebut dikupas vaksin covid-19 mulai dari cara kerja, kandungan, rekomendasi pemberian hingga potensi efek samping. Karena hingga saat ini pandangan dan pengetahuan masyarakat tentang vaksin Covid-19 pun beragam. Sehingga muncul keraguan atas keamanan, keefektifan serta persyaratan untuk menerima vaksin.

Sebelumnya SehatQ telah melakhkan survei secara daring (online) untuk menggali persepsi publik terhadap vaksin covid-19. Survei yang digelar Oktober 2020 melibatkan 797 responden. Hasil survei berhasil memetakan pandangan publik atas kehadiran vaksin di masa pandemi saat ini.

“Hasil survei memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat bersedia menerima vaksin Covid-19,” kata Linda. Dari total 797 responden, sebanyak 88 persen atau 699 orang menyatakan bersedia untuk divaksinasi.

Dari segi waktu pemberian vaksin, sebagian besar responden yaitu sebanyak 49 persen atau 394 orang berharap vaksinasi massal dilakukan bila kualitas vaksin terbukti efektif. Sementara itu, ada 19 persen responden atau 155 orang ingin vaksinasi dilakukan secepatnya.

“Di luar keduanya, ada masing-masing 10 persen atau 76 orang dan 9 persen atau 74 orang memilih mendapat vaksin sesuai jadwal pemerintah dan setelah kelompok prioritas menerimanya,” ujar Linda.

Ditambahkan, SehatQ juga menggali informasi dari para responden yang belum bersedia menerima vaksin. Setidaknya ada 12 persen responden dari total responden (98 orang dari 797 orang) yang menolak vaksin dengan empat alasan.

Alasan pertama, para responden (66 persen responden atau 98
orang yang menolak karena tidak yakin atas keamanan maupun efektivitas vaksin Covid-19. Kedua, sebanyak 19 persen responden khawatir efek samping di kemudian hari.

Ketiga, lanjut Linda Wijaya, 8 persen responden meyakini ada alternatif selain vaksin untuk mengakhiri pandemi. Keempat, pertimbangan kepercayaan dalam agama membuat 6 persen responden menolak vaksin Covid-19.

Menanggapi hasil survei SehatQ, Senior Executive Vice President (SEVP) Penelitian dan Pengembangan Bio Farma, Adriansjah Azhari menyatakan masyarakat tak perlu khawatir atas kualitas dan keamanan vaksin Covid-19 yang beredar di Tanah Air.

“Sebelum didistribusikan ke masyarakat, tim peneliti bersama tim medis telah melakukan pengujian ketat terhadap vaksin,” ujarnya.

Bio Farma sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang terlibat dalam penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19 yang akan diedarkan ke masyarakat Indonesia. (Tri Wahyuni)