Sejak Kurikulum Merdeka Diterapkan, Kasus Perundungan di Sekolah Turun Drastis

0

JAKARTA (Suara Karya): Bullying atau perundungan merupakan satu dari tiga dosa besar di lingkungan pendidikan yang harus dihilangkan, selain kekerasan seksual dan intoleransi. Untuk itu, sekolah diminta melakukan aksi nyata yang melibatkan guru dan siswa.

Upaya pencegahan dan penumpasan kasus perundungan di lingkungan satuan pendidikan dilakukan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Warga sekolah juga diminta menandatangani deklarasi komitmen anti perundungan.

Kegiatan P5 yang merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) secara perlahan akan membentuk nilai-nilai karakter positif pada siswa, sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Dua sekolah di Kota Cirebon yang merasakan manfaat dari kegiatan P5 dalan Kurikulum Merdeka adalah SMPN 7 dan SMPN 12. Sejak deklarasi komitmen anti perundungan ditandatangani bersama guru dan siswa, kasus yang sering menimbulkan keributan antarsiswa tersebut semakin berkurang.

Seperti diungkapkan Kepala SMPN 7 Cirebon, Euis Sulastri. Sebelum deklarasi, banyak siswanya yang harus konsultasi ke psikolog di RS Gunung Jati, lantaran tak kuat menghadapi perundungan yang dialaminya.

“Ada satu kasus yang cukup parah. Waktu SD, siswa itu sering di-bully temannya. Sampai harus pindah sekolah. Waktu masuk SMPN 7, anak itu mengalami kasus yang sama, karena temannya yang suka bully ada disini. Kasusnya baru terungkap setelah anak itu mogok sekolah,” tutur Euis di sekolahnya, akhir pekan lalu.

Meski kasus perundungan di sekolahnya menurun drastis, Euis menyebut perundungan masih saja terjadi meski tidak berat. Kalaupun harus ke psikolog lebih ke arah butuh pendengar yang baik dan bisa mengarahkan, bukan karena masalah perundungan.

“Kasus perundungan yang masih sering terjadi itu biasanya siswa panggil teman dengan nama bapak atau ibunya. Melakukan ‘body shaming’, panggil temannya dengan sebutan gendut, item atau hal negatif lainnya. Biasanya kami ingatkan soal deklarasi, lalu dia minta maaf ke temannya,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Kepala SMPN 12 Kota Cirebon, Iis Nuraeni. Sekolah tersebut juga memanfaatkan aktivitas P5 dalam Kurikulum Merdeka untuk membangun kesadaran siswa terkait perundungan.

“Perundungan itu seperti api dalam sekam. Ada temuan dari teman-teman guru, sejak kembali belajar secara tatap muka pasca pandemi, komunikasi antar siswa menjadi kurang pantas karena menggunakan kata-kata yang cenderung kasar,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Iis, ketika saling bertemu, siswa menjadi lebih mudah melakukan body shaming. Hal itu terjadi karena di masa pandemi, anak terlalu banyak bermain di media sosial.

“Di media sosial, anak belajar cara berkomunikasi dengan orang lain, dengan cara menghujat dan berkata kasar. Kebiasaan itu terbawa saat sekolah kembali tatap muka,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Iis, pihaknya mengambil tema anti perundungan saat sekolah diminta melakukan aktivitas P5. Diharapkan kasus perundungan bisa dikendalikan sejak awal, agar tidak berkembang lebih jauh dan memberi dampak buruk.

Disebutkan, dalam aktivitas P5 antiperundungan, siswa melewati beberapa tahap, yaitu pengenalan, kontekstualisasi, aksi, dan pengumpulan karya.

“Siswa diajak membuat kampanye dan sosio drama tentang perundungan. Diharapkan siswa dapat memahami tindakan apa saja yang masuk dalam perundungan, lalu merefleksikan sikapnya selama ini kepada teman-teman di sekolah,” ujarnya.

Implementasi Kurikulum Merdeka juga memberi kebahagiaan pada siswa. Seperti dituturkan Aulia Regina Putri, siswa SMPN 12 kelas 7 F yang mengaku suka Kurikulum Merdeka karena pembelajaran lebih menyenangkan.

“Pembelajaran di sekolah sekarang lebih seru karena banyak aktivitas seperti membuat produk buatan tangan seperti tempat pinsil dan celengan. Kami juga diajarkan berkebun dan membuat pupuk kompos,” ujarnya.

Kesukaan serupa disampaikan Yasmin Tri Wahyu Dewiyanti, Annisa Rahmania Putri dan Mesya Melati Putri. Ketiganya siswa kelas 7D.

“Sejak bangku diatur per 4 orang satu meja, kami jadi lebih akrab antar siswa. Kami juga diajarkan membuat video atas kegiatan yang kami lakukan. Kegiatan semacam itu membuat sekolah jadi seru dan tidak membosankan,” kata Yasmin yang dibenarnya kedua temannya.

Bahkan sejak deklarasi anti perundungan ditandatangani, lanjut Annisa, dirinya tak lagi kena kasus perundungan. Memiliki tubuh besar, dulu ia sering di-bully teman-temannya.

“Sekarang tak ada lagi yang panggil saya seperti dulu. Mereka sudah tahu kalau ucapan semacam itu termasuk ‘bullying,” kata Annisa menandaskan. (Tri Wahyuni)