Sekolah Diminta Bantu Siswa Bentuk Komunitas Anti Korupsi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meminta siswa membentuk komunitas Anti Korupsi di sekolah. Dengan demikian, tumbuh kesadaran baru di kalangan siswa tentang bahaya korupsi.

“Anak remaja biasanya lebih mendengar suara dari peer group-nya. Karena itu, pentingnya siswa membentuk komunitas anti Korupsi di sekolah,” kata Irjen Kemdikbud, Muchlis Rantoni Luddin dalam peluncuran program “Saya Anak Anti Korupsi (SAAK)” di Jakarta, Kamis (13/12/2018) malam.

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Basaria Pandjaitan, pejabat di lingkungan Kemdikbud dan 720 siswa sekolah menengah atas (SMA) berprestasi.

Muchlis menjelaskan, dimasukkannya materi pemberantasan korupsi dalam kurikulum sekolah merupakan ikhtiar dari Kemdikbud. Hal itu sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Dalam program SAAK ini, nantinya akan dibentuk komunitas anti korupsi di sekolah-sekolah untuk membangun budaya jujur dan anti korupsi. Upaya itu harus didukung guru dan sekolah.

“Saya sudah usulkan agar komunitas anti korupsi menjadi bagian dari kegiatan esktrakulikuler. Hal terkecil yang bisa dilakukan komunitas itu, misalkan, tidak boleh menyontek,” kata Muchlis menandaskan.

Upaya yang dilakukan Kemdikbud melalui program SAAK mendapat apresiasi dari Wakil Ketua KPK, Basaria Pandjaitan. Karena kesadaran bahaya korupsi harus sudah ditanamkan pada anak sejak dini.

“Sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), anak seharusnya sudah diajarkan tentang kejujuran. Kebiasaan ini akan terbawa terus hingga dewasa,” ujarnya.

Basaria menambahkan, upaya itu menjadi urgen karena kasus korupsi di Indonesia sudah pada tingkat yang membahayakan. Karena tindakan korupsi terjadi merata pada semua lembaga mulai dari eksekutif, legislatif dan yudikatif.

“Meski sudah ratusan orang sudah dijebloskan ke bui akibat korupsi, ternyata kasusnya terus terjadi. Itu sebabkan pentingnya bahaya korupsi di tanamkan pada anak-anak kita sejak dini,” ucapnya.

Ditambahkan, kekayaan alam Indonesia begitu melimpah. Namun kekayaan itu belum dapat dimanfaatkan seluruhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Pasalnya, kekayaan alam berupa tambang emas, gas, minyak bumi, batu bara, timah, bahkan air digerogoti oleh koruptor.

“Seandainya sejak 12 tahun lalu, kekayaan alam Indonesia tidak dikorupsi, anak cucu kita akan menikmati kesejahteraan. Biaya kesehatan maupun pendidikan pun bisa murah. Orang boleh tidak suka dengan pernyataan ini, tapi faktanya demikian,” ujar Basaria.

Mengingat sudah sedemikian buruknya korupsi di Indonesia, Basaria menilai, pendidikan korupsi harus ditanamkan anak sejak usia dini. Karena korupsi tak bisa dilawan hanya dengan retorika atau pidato, melainkan dengan integritas.

“Dan integritas itu bersumber dari kejujuran. Apakah kalian siap menjadi generasi antikorupsi,” kata Basaria yang disambut ratusan siswa dengan menjawab kata siap. (Tri Wahyuni)