Sekolah Kharisma Bangsa Gelar Festival Seni dan Budaya

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni.

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Kharisma Bangsa menggelar Festival Seni dan Budaya (FSB) 2019 untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA). Perhelatan tahunan itu mengajak siswa mencintai seni, budaya dan bahasa Indonesia, yang saat ini mulai tersisihkan.

“FSB ini boleh dibilang bak oase di tengah maraknya seni, budaya dan bahasa asing di Indonesia,” kata Presiden Olimpiade Seni dan Budaya Indonesia (OSeBi), Liliana Muliastuti disela pembukaan FSB 2019 di Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe Tangerang Selatan, Jumat (22/2/2019).

FSB 2019 yang baru pertama kali digelar ini merupakan gabungan dua ajang kompetisi pelajar bergengsi yaitu OseBi dan Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). Kegiatan yang berlangsung 22-24 Februari itu diselenggarakan PT Edukasi Universal.

Liliana yang juga Dekan Fakultas Seni dan Bahasa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengatakan, beberapa tahun terakhir ini muncul fenomena banyak pelajar Indonesia kesulitan berbahasa Indonesia. Komunikasi harian mereka dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

“Ini terjadi pada anak di sekolah Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) yang dulu dikenal sebagai sekolah internasional. Orangtua bangga anaknya bisa bicara dalam bahasa Inggris dan Mandarin, karena terdengar lebih prestisius,” ujarnya.

Padahal, lanjut Liliana, anak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Ketidakmampuannya dalam berbahasa Indonesia, juga merembet pada hal lain seperti seni dan budaya.

“Ini sungguh disayangkan. Banyak orang asing ingin belajar seni, budaya dan bahasa Indonesia, tetapi kita malah “alergi” terhadap budaya sendiri. Untuk itu, diperlukan peran keluarga dalam menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bangsanya sendiri,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Presiden ISPO, Riri Fitri Sari. Banyak sekolah di Indonesia yang memiliki proyek sains dalam proses belajar mengajarnya. Padahal, di era revolusi industri 4.0, anak seharusnya sudah ditanamkan cinta sains sejak dini.

“Masih banyak sekolah yang tidak menggunakan standar internasional dalam membuat proyek penelitiannya. Padahal, kemampuan itu perlu agar siswa terbiasa. Apalagi jika siswa ingin menggeluti dunia penelitian,” tuturnya.

Karena pemenang ISPO, lanjut Guru Besar Bidang Teknik Universitas Indonesia, akan dikirim untuk kompetisi penelitian yang digelar kampus-kampus bergengsi di luar negeri. Dengan demikian, siswa belajar dari lingkungan peneliti internasional.

“Kami rutin mengirim para pemenang ISPO ke ajang internasional seperti di Amerika, Brazil, Belanda. Ada beberapa yang menang. Tetapi itu bukan tujuan. Anak jadi belajar berkompetisi dengan siswa dari negara lain,” katanya.

Disebutkan ada 6 kategori dalam ISPO, yakni lingkungan, pengolahan lahan, polusi udara, air, kemudian teknologi dan komputer, fisika teknologi dan kimia. Tahun ini ada 373 proyek penelitian yang melibatkan 715 siswa dari 160 sekolah yang tersebar di 25 provinsi. (Tri Wahyuni)