Selain Keahlian, Bekali Sarjana Terapan Jiwa Kepemimpinan!

0

JAKARTA (Suara Karya): Sarjana terapan diproyeksikan untuk menjadi manajer, tak sekadar ‘tukang’. Karena itu, mahasiswa D-4 harus dibekali jiwa kepemimpinan, karakter adaptif dan inovatif, selain kompetensi keahlian.

“Kami ingin perkuat program D-4, agar lulusannya dapat menjadi innovator, kreator, manager, bahkan pemimpin yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI),” kata Mendikbud Nadiem Anwar Makarim dalam webinar bertajuk “Sarjana terapan, Jawaban Industri Masa Depan”, Jumat (26/2/2021).

Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Wikan Sakarinto menambahkan, kelebihan program D-4 adalah kompetensi yang diberikan terdiri dari 60 persen praktek dan 40 persen teori. Diharapkan lulusan D-4 dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang sesuai industri.

“Perbedaan antara D-4 dengan D-3 adalah softskill yang akan diberikan ke D-4 lebih banyak dan spesifik. Sarjana terapan juga memiliki kesempatan magang selama 1 tahun di industri, serta melakukan ‘project based learning’ bersama dengan industri.

“Kami ingin memahami keunggulan program D-4. Meski kuliah lebih lama 1 tahun, tetapi kompetensi yang dihasilkan lebih baik dan spesifik,” ujarnya.

Selain program sarjana terapan, Wikan menambahkan, pihaknya juga akan mengembangkan program SMK – D2 Fast Track. Program itu adalah ‘pernikahan’ antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan Politeknik atau kampus vokasi. Program tersebut dilaksanakan dengan ‘sual system’.

“Nantinya siswa SMK bisa kuliah sambil magang. Dual system ini telah digunakan negara Jerman. Magang di industri dilakukan selama 3 semester. Sehingga diperoleh kompetensi keahlian yang sesuai dengan industri,” katanya.

Wikan menekankan kembali konsep link and match diterapkan semaksimal mungkin pada jenjang sarjana terapan dan SMK-D2 fast track. Intinya, konsep link and match itu tak hanya sekedar penandatanganan MoU, tetapi sudah pada tahap pembuatan kurikulum bersama, sertifikasi, pengajar dari industri dan penempatan dalam program magang.

“Bagi siswa yang ingin lanjut kuliah, penting untuk mengambil jurusan yang sesuai dengan passion atau gairah. Orangtua juga harus memahami passion anak, dengan tidak memaksakan kehendak. Karena perkembangan industri yang sangat pesan, beberapa profesi dan pekerjaan mulai menghilang,” tuturnya.

Wikan mengungkapkan, program studi pada sarjana terapan dibuat lebih spesifik dibanding sarjana (S-1). Karena program studinya dibuat sesuai kebutuhan DUDI. Untuk itu, Ditjen Diksi terus melakukan kolaborasi dengan DUDI untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan siap kerja.

Disebutkan, beberapa contoh program studi D-4 yang spesifik, seperti Akuntansi Sektor Publik, Manajemen dan Penilaian Properti, Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis, dan lainnya. “Dari namanya saja, sarjana terapan dirancang spesifik. Karena itu, kurikulum sarjana terapan dan D2 sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Wikan, Kemdikbud mengajak DUDI untuk menjalin kerja sama dengan tenaga pendidik di Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) untuk membenahi kurikulum, metode belajar mengajar, serta strategi riset.

“Harapannya, ‘menikahkan’ pendidikan vokasi dengan industri akan memberi manfaat kepada kedua belah pihak,” kata Wikan menandaskan. (Tri Wahyuni)