Semangat Keberagaman Harus Ditanamkan Sekolah Sejak Dini

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah seharusnya menjadi miniatur bagi anak untuk memahami makna keberagaman. Dengan demikian, anak memiliki sikap toleransi serta menghormati orang lain yang berbeda dari dirinya.

“Peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum bagi kami untuk menggelorakan kembali makna keberagaman kepada siswa,” kata Direktur Sekolah Global Sevilla, Robertus Budi Setiono dalam peringatan Sumpah Pemuda, di Jakarta, Minggu (28/10).

Untuk itu, Robertus menambahkan, sekolah perlu menggelar kegiatan yang dapat bangkitkan kembali semangat keberagaman di masa lalu kepada anak-anak. Bagaimana Indonesia yang memiliki beragam budaya, suku dan bahasa dapat hidup rukun dan damai.

“Lingkungan sekolah menjadi tempat yang tepat untuk belajar soal keberagaman. Karena sekolah itu terdiri dari anak-anak yang lahir dari suku, agama, budaya hingga latar belakang sosial yang berbeda-beda,” ujarnya.

Karena itu, Robertus menambahkan, anak diajarkan pentingnya menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan. Hal itu akan berguna saat anak memasuki dunia kerja dan masyarakat yang juga penuh keragaman.

Ia menambahkan, pihaknya sejak awal anak masuk sekolah sudah menanamkan tentang perbedaan dan keberagaman. Hal itu merupakan salah satu kekayaan bangsa yang harus terus terjaga.

“Intinya, perlu dipupuk tentang pentingnya toleransi dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Menurut Robertus, semangat Sumpah Pemuda bagi generasi muda nantinya memiliki peran dan kontribusi terhadap kemajuan bangsa. Karena, semua pihak memiliki tujuan yang sama bagaimana Indonesia tetap satu dengan rakyatnya yang adil dan makmur.

Karena itu, Robertus menegaskan, proses pembelajaran di sekolah sejatinya tidak hanya mengejar prestasi akademik. Tetapi bagaimana mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depannya.

Ditambahkan, sekolah tetap harus mengutamakan pendidikan karakter. Termasuk didalamnya bagaimana meningkatkan wawasan kebangsaan di kalangan siswa.

“Harus disadari bahwa bersikap kompetitif secara akademis bukanlah satu-satunya tujuan dari pendidikan. Siswa perlu keseimbangan dengan nilai-nilai karakter. Dengan demikian, anak menjadi cerdas baik secara akademis, maupun pola pikir, mental dan emosinya,” kata Robertus menandaskan. (Tri Wahyuni)