Semangat Wujudkan Banten Berdaulat Pangan 2025

0

BANTEN (Suara Karya): Sebuah tekad untuk mambangun kemandirian pangan, khususnya bagi Provinsi Banten dalam tahun 2025, telah dicanangkan dengan digelarnya acara penandatanganan kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Banten bernama PT. Agrobisnis Banten Mandiri (ABN) dengan 30 perusahaan yang sebagian besar bergerak dalam bidang agrom baik pertanian, perikanan, maupun peternakan, dan perusahaan pendukung lainnya.

Dalam acara penandatanganan bertema “Gerakan Bersama Mewujudkan Banten Berdaulat Pangan” yang dilakukan Ruang Rapat Gedung Negara Provinsi Banten, Jalan Brigjen KH. Syam’un Serang, Banten, Rabu (17/3/2021) itu seluruh pimpinan perusahaan datang dan menandatangani MoU dengan disaksikan anggota DRD Banten, mantan Menteri Pertanian, Anton Apriantono, CEO Bank BJB Kanwil Banten, Edi Kurniawan, dan juga Direktur Utama PT ABM, H. Saeful Wijaya. Seluruh rangkaian acara dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Dari 30 perusahaan, memang terlihat juga keragaman bidang yang akan bersinergi mewujudkan daulat pangan tersebut, mulai dari unsur perbankan (Bank BJB Kanwil Banten), PT. Pembangunan Investasi Tangerang Selatan, PD Pasar Kota Tangerang, PD Pasar Niaga Kerta Kabupaten Tangerang, Perkumpulan Insan Tani Nelayan Indonesia (Intani, Koperasi (Kopban), Koperasi Lumbung Ternak Banten (LTB), Gabungan Sales Banten (Gaseba), PT Agro Kreasindo Nira, CV. Tambak Muda Farm, PT. Daksinapati Agro Niaga, dan PT. Siskindo PT Siskindo Utama Dharma yang bergerak dibidang electrical dan mechanical Control,

Direktur Utama PT ABM, H. Saeful Wijaya dalam sambutannya mengatakan, acara MoU ini memberi sinyal bahwa kita serius untuk membangun kemandirian dan kemajuan provinsi Banten, demi Banten berdaulat pangan pada 2025.

“Semua ini demi untuk kesejahteraan masyaraat Banten, dan pada saatnya, Banten ikut membantu provinsi lain dalam mencukupi kebutuhan pangan, sehingga mengurangi impor pangan seperti diinginkan Presiden Jokowi,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Saeful Wijaya, PT Agrobisnis Banten Mandiri menginisiasi deklarasi “Gerakan Banten Berdaulat Pangan 2025“. Yang artinya diharapkan pada tahun 2025 Banten betul-betul berdaulat, sehingga mempunyai nilai tawar tersendiri.

Pada acara itu ditandatangani bersama “Nota Dukungan Gerakan Bersama Wujudkan Banten Berdaulat Pangan 2025” yang ditandatangani oleh beberapa Dinas pemerintahan terkait seperti Bank BJB, beberapa unit Koperasi, Paguyuban urang Banten dan juga beberapa kelompok persatuan yang berhubungan dengan Pangan, dan Juga beberapa mitra bisnis yang kegiatannya membantu operasi dari Industri-industri pangan yang ada di Banten.

Apresiasi Pengusaha

Penandatanganan MoU ini disambut gembira kalangan pengusaha dan pihak terkiat di Banten. Salah satunya PT Siskindo Utama Dharma, Ibu Yunita Fahmi selaku Direktur PT Siskindo mengatakan, sangat appreciate dengan apa yang dilakukan PT. ABM, karena di usia yang sangat muda sudah bisa menginisiasi deklarasi gerakan Banten berdaulat pangan 2025.

“Menurut saya, memajukan pangan disetiap wilayah betul-betul merupakan pekerjaan yang tidak mudah tapi sangat diperlukan apa lagi di situasi Covid-19 saat ini, di mana setiap negara harus bisa mengatasi permasalahan negaranya sendiri dan otomatis turun di setiap wilayah di Indonesia, setiap wilayah di situasi sulit dampak dari Covid-19, harus bisa mengatasi kebutuhan diwilayah itu sendiri,” papar Yunita Fahmi.

Perempuan pengusaha ini menilai. PT ABM menangkap itu dengan gerakan yang cukup cepat. Semoga semua harapan dan –cita yang mulia ini dapat diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT.

Sementara PT Siskindo Utama Dharma sendiri lanjut Yunita Fahmi, adalah perusahaan yang bergerak dibidang electrical dan mechanicalc, di mana setiap Industri yang ada memerlukan genset atau peralatan electrical lainnya yang semuanya mempunyai peralatan control yang harus dijaga kondisinya agar selalu dapat beroprasi secara maksimal, sehingga bisa menjamin hasil produksi dan tidak terjadi kegagalan produksi karena tidak adanya permasalahan electrical dan mechanical. (Pramuji)