Senat: Pemilihan Rektor UNJ Harus Bebas dari Politik Uang

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Senat Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Hafidz Abbas berharap proses pemilihan rektor (pilrek) UNJ yang akan digelar pada Juli-September mendatang terbebas dari politik uang. Kampus seharusnya bersih dari perilaku korupsi.

“Senat Guru Besar UNJ tak menolerir jika ada bakal calon (balon) rektor yang melakukan politik uang dalam pilrek ini,” kata Hafidz Abbas kepada wartawan terkait rencana digelarnya pemilihan Rektor UNJ periode 2019-2023 di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Hafidz dalam kesempatan itu didampingi Sekretaris Senat Guru Besar UNJ, Nadiroh dan panitia pemilihan rektor UNJ 2019-2023, Abdul Haris, Suyitno Muslim serta Pinta Deniyanti.

Guru Besar Tetap pada Fakultas Ilmu Pendidikan itu menambahkan, balon rektor UNJ harus memiliki kepribadian yang tidak mudah tergoda untuk melakukan penyimpangan. Hal itu penting, agar kasus rektor UNJ yang terjadi belakangan ini, tak terjadi lagi di masa depan.

“Kami berharap proses pemilihannya berlangsung aman, bersih dan dapat dipertanggungjawabkan. Media juga bisa bantu mengawal proses pemilihan ini,” ucapnya.

Hal senada dikemukakan Abdul Haris. Pengalaman mengikuti pilrek di sejumlah kampus daerah membuat Haris paham “permainan” yang biasa terjadi dalam pilrek. Karena itu, pihaknya berupaya agar pilrek di UNJ terlepas dari hal-hal yang mengotori proses demokrasi perguruan tinggi.

“Kami harap Menristekdikti (Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) bersikap tegas. Karena biasanya, broker pencalonan dari partai tertentu akan muncul dan mereka menjanjikan bisa melakukan kemufakatan agar dapat suara menteri,” tuturnya.

Abdul Haris menjelaskan, pilrek UNJ kali ini terbuka bagi orang luar. Namun, syaratnya harus berstatus dosen pegawai negeri sipil (PNS). Hal itu merujuk pada status UNJ yang masih berbentuk badan layanan umum (BLU). Selain itu, usia balon tidak boleh lebih dari 60 tahun.

“Pendidikan balon minimal lulus S3 atau bergelar doktor, baik dari kampus dalam atau luar negeri. Kami akan bekerja sama biro kepegawaian untuk verifikasi dokumen guna menghindari kasus ijazah palsu. Bagi lulusan luar negeri, harus ada pengesahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” tuturnya.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Abdul Haris, balon harus memiliki sejumlah karya ilmiah, yang sudah terpublikasi dengan baik di jurnal internasional dalam 5 tahun terakhir. Talenta itu diharapkan dapat mendorong kampus meningkatkan jumlah publikasi ilmiah.

Balon UNJ tampaknya memiliki tugas berat selama 4 tahun masa tugasnya kedepan. Banyak perubahan terjadi di UNJ dalam 2 tahun terakhir, karena tidak dipimpin oleh rektor definitif.

Disebutkan 6 banyak titipan harapan dari civitas akademika UNJ kepada balon rektor. Yaitu, rektor terpilih harus mampu menyusun strategi peningkatan reputasi akademik UNJ baik di tingkat nasional maupun di ASEAN. Selain itu, bisa membawa UNJ sebagai pusat unggulan dan rujukan di bidang kependidikan di tingkat nasional.

Harapan lainnya adalah rektor harus mampu meningkatkan reputasi SDM di UNJ baik dalam jumlah maupun kualitas. Rektor harus memiliki jiwa entrepreuner dan berkarya secara profesional. Selain juga mampu memenuhi fasilitas pembelajaran dan penelitian.

“Dan yang tak kalah penting rektor baru harus mampu meningkatkan kerja sama internasional dengan mendatangkan mahasiswa asing atau mengirim dosen keluar negeri di perguruan tinggi bereputasi,” ucap Abdul Haris menandaskan. (Tri Wahyuni)