Seni Rupa Indonesia Bakal Kembali Menggeliat

0

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Balai Budaya Jakarta, Syahnagra Ismail memprediksikan dunia seni rupa Indonesia akan kembali menggeliat. Hal itu terlihat dari padatnya kegiatan pameran selama 2018.

“Saya melihat tahun depan akan ada semacam gerakan dalam seni rupa Indonesia,” kata Syahnagra Ismail dalam acara diskusi bertajuk “Refleksi dan Proyeksi Seni Rupa Indonesia 2018-2019” di Balai Budaya Jakarta, Senin (17/12/2018).

Ia mengaku senang dengan maraknya kegiatan pameran di Balai Budaya. Ia berharap kejayaan seni rupa Indonesia di era 80-an bisa bangkit kembali. “Ini hanya perkiraan saya saja,” ucap Syahnagra menandaskan.

Acara yang dibuka oleh pelukis, Sriwarso Wahono itu menampilkan pembicara lain yaitu kritikus seni rupa, Bambang Bujono, sejarawan Bonnie Triyana dan kurator merangkap pemilik galeri Amir Sidharta.

Pernyataan berbeda dikemukakan Bambang Bujono. Pria yang akrab dipanggil Bambu itu menilai dunia seni rupa Indonesia tetap akan jalan di tempat. Pasalnya, seni rupa tidak ditunjang oleh sarana pendukung mulai dari sekolah, museum, media hingga kritikus.

“Kajian akademis tentang seni rupa minim publikasi. Tak ada ruang bagi generasi muda untuk mengenal seni rupa. Selain itu, seni rupa kita juga tidak berjalan linier,” katanya.

Bambang Bujono mengemukakan, seni rupa Indonesia pernah “booming” di era 80-an. Hal itu terlihat pada bertumbuhnya galeri dan museum pribadi. “Lalu muncul para kolektor lukisan, kegiatan art fair serta inisiatif pribadi untuk berkiprah di gelanggang global,” ujarnya.

Namun, disayangkan pria yang akrab dipanggil Bambu itu, pasar seni rupa Indonesia cenderung pemilih. Jual beli lukisan pada karya-karya lama dari Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojono, Basuki Abdullah dan Widayat.

“Hal itu mungkin dirangsang oleh koleksi Bung Karno dan istana. Sekarang lebih berkembang lewat koleksi kontemporer karya Kelompok Jendela, Masriadi, Heri Dono dan Entang Wiharso,” tuturnya

Bambu mengaku perkembang seni rupa mencapai puncak saat digelar Jakarta Biennale pada 1993 yang menyuguhkan perkembangan mutakhir seni rupa yang tidak diminati pasar. Perkembangan itu bisa menampilkan seni rupa Indonesia di mata dunia. “Bisakah dunia serupa kita mencapai kejayaan itu,” katanya mempertanyakan.

Sementara itu Bonnie menyoroti seni rupa Indonesia di era kemerdekaan. Seni rupa dipergunakan untuk propaganda. Banyak kaligrafi atau lukisan digunakan untuk melawan Belanda.

“Berbeda dengan di Jerman, yang menebarkan kebencian pada etnis tertentu. Kaligrafi di Indonesia ditujukan untuk Belanda, si penjajah,” katanya.

Menurutnya, dinamika praktek, pergerakan serta perkembangan seni rupa Tanah Air sedikit banyak telah memberi inspirasi sekaligus pembelajaran bagi para seniman (perupa), pemerintah, pengamat dan kritikus serta pecinta seni rupa.

“Dengan kata lain, inspirasi dan pembelajaran ini menjadi salah satu “modal” bagi seniman, pemerintah, pengamat dan semua kalangan untuk membaca seni rupa masa lalu menuju seni rupa masa depan yang lebih bergairah serta berkualitas lagi,” ujarnya.

Sementara itu Amir Sidharta mengemukaka pasar jual beli lukisan yang masih bergairah selama 2018. Tak seperti di luar negeri, harga lukisan bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah, lukisan karya pelukis Indonesia pun cukup banyak peminat.

“Hampir sebagian besar lukisan yang terjual diatas perkiraan. Hasilnya cukup menggembirakan,” kata pemilik galeri SIDHArtA itu menandaskan. (Tri Wahyuni)