Sepanjang 2021, LSF Temukan 2.602 Tayangan Tanpa Proses Sensor

0

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Sensor Film (LSF) menemukan 7.597 tayangan berkasus baik di televisi dan jaringan informatika sepanjang tahun 2021. Meski melanggar, tak ada sanksi bagi pelaku.

“Para pelanggar ini akan kami beri pembinaan. Karena tak semua pelaku seni itu tahu secara detail soal peraturan perundang-undangan,” kata Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto dalam konferensi pers bertajuk ‘Laporan Kinerja LSF Tahun 2021’, di Jakarta, Selasa (22/3/22).

Rommy menjelaskan, temuan tersebut merupakan hasil dari pemantauan Komisi II LSF di televisi dan jaringan informatika. Selama pandemi, bioskop nyaris tidak beroperasi. Komisi II sepanjang 2021 melakukan pemantauan terhadap 8.858 tayangan.

Dari 8.858 tayang, menurut Komisi II LSF, ada 7.597 kasus temuan. Rinciannya, ada 2.602 tayangan tanpa melalui proses sensor, 2.793 film yang saat penayangan tidak mencantumkan STLS, 2.602 film yang ditayangkan dengan data film berbeda dengan yang didaftarkan untuk disensor.

Bahkan ada 149 film yang ditayangkan dengan STLS yang sudah kedaluwarsa, selain 1.912 film asing yang ditayangkan dengan sulih suara (dubbing).

Ditanya soal model pembinaan terhadap para pelanggar, Rommy mengatakan, pihaknya menggunakan pendekatan persuasi, edukasi dan kultural. “Ketika tayangan sudah masuk ke televisi dan jaringan informatika, ada irisan pekerjaan dengan lembaga lain,” ujarnya.

Rommy menegaskan, tidak semua pelanggaran harus diberi sanksi hukum. Karena bisa saja, pelanggaran tersebut dilakukan tanpa sengaja. “Film ini kan produk budaya. Jadi kita harus hati-hati, karena tidak ada checklist-nya. Jadi, yang kita bisa lakukan adalah pembinaan,” ujarnya.

LSF, lanjut Rommy, melakukan pembinaan kepada pelaku seni, industri kreatif dan seniman sebanyak 4 kali dalam setahun lewat kegiatan Focus Discussion Group (FGD). Hal-hal baru disampaikan agar mereka paham ada aturan yang harus ditaati dalam pembuatan film atau industri kreatif lainnya.

“Cara seperti ini lebih efektif, dibanding sanksi hukum. Karena kita memiliki suasana kebatinan yang sama untuk memajukan perfilman di Indonesia,” ucap Rommy menandaskan.

Soal kegiatan penyensoran, Rommy menjelaskan, pada aplikasi e-SiAS terlihat sepanjang 2021, total materi sensor yang didaftarkan ada 40.640 judul. Dari jumlah itu, yang tidak lolos sensor ada 2 judul.

“Jumlah itu melampaui target Rencana Strategis (Renstra) LSF 2021. Yang menggembirakan adalah dari 40 ribu judul film yang disensor, ada sekitar 85 persen lulus tanpa revisi,” ujarnya.

Dari total judul film yang disensor, kata Rommy, sebanyak 25.448 judul atau sebesar 62,62 persen merupakan produksi film dan iklan film nasional. “Kita bersyukur film nasional masih bergairah di saat pandemi. Pandemi covid-19, tak mengurangi minat sineas Tanah Air untuk tetap berkarya,” katanya.

LSF membagi jenis pertunjukan materi sensor dalam tiga kategori, yaitu layar lebar, penyiaran televisi, dan jaringan informatika. Sepanjang 2021, materi sensor untuk televisi masih mendominasi sebanyak 38.198 judul atau 93,99 persen.

Sedangkan materi film layar lebar yang lulus sensor tercatat 233 judul. Jumlah film layar lebar yang lulus sensor mengalami kenaikan sebanyak 20,9 persen dibanding tahun 2020.

Untuk penggolongan usia penonton, sepanjang tahun 2021, LSF menghasilkan data kategori untuk semua umur (SU) sebanyak 5.082 judul, usia remaja 13 tahun atau lebih sebanyak 25.019 judul. Golongan usia penonton 17 tahun atau lebih sebanyak 10.133 judul dan golongan usia penonton dewasa 21 tahun atau lebih sejumlah 315 judul. (Tri Wahyuni)