Serangan Covid-19 pada Anak, Ternyata Tak Seagresif ke Dewasa

0
dokter spesialis jantung anak Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Prof dr Ganesja Harimurti SpJP (K). (suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Serangan virus corona disease (covid-19) pada anak, ternyata tak seagresif pada anak. Gejala yang ditimbulkan umumnya ringan seperti demam, batuk, ingusan, nyeri di tenggrokan, mual dan diare.

“Alhamdulillah, gejala covid-19 pada anak jarang sekali yang parah seperti orang dewasa. Jadi, mereka tak butuh ventilator atau alat lainnya,” kata dokter spesialis jantung anak Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Prof dr Ganesja Harimurti SpJP (K) dalam diskusi media yang digelar virtual, Jumat (29/1/2021).

Namun diakui perempuan yang akrab dipanggil Prof Ganesja itu, virus corona yang menyerang anak dengan kelainan penyerta memang lebih parah, termasuk mereka yang sebelumnya dioperasi jantung. Kendati demikian, tidak ada kasus kematian yang dilaporkan.

“Covid-19 dilaporkan banyak menyerang organ paru dan jantung pada orang dewasa. Ini yang ditakutkan, jika covid-19 menyerang pada anak. Namun, hal itu tidak ditemukan pada kasus covid-19 yang menyerang anak,” ujarnya.

Ia mengutip pernyataan selaras dari Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Yogi Prawira SpA (K). Data per 20 November 2020 ada sekitar 11,3 persen dari total pasien covid-19 di Indonesia adalah anak-anak.

“Dengan demikian, 1 dari 9 atau 10 orang yang terinfeksi covid-19 adalah anak atau seseorang berusia dibawah 18 tahun. Anak yang terkena covid-19 hanya mengalami gejala ringan, bahkan sekitar 18 persen kasus diketahui tanpa gejala,” kata Prof Ganesja.

Meski gejala yang diidap ringan, Prof Ganesja tetap meminta pada orang tua untuk melindungi anak dari covid-19. Caranya, menerapkan protokol kesehatan jika harus keluar rumah seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

“Saya senang sekali melihat anak-anak tidak rewel dipakaikan masker saat keluar rumah. Jika tidak penting sekali, sebaiknya tinggal bersama anak di rumah saja, meski saya tahu orang-orang sudah bosan berada dalam rumah,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Prof Ganesja, lakukan langkah pencegahan seperti konsultasi rutin dengan dokter, vaksinasi, olahraga teratur, konsumsi makanan bergizi dan seimbang.serta istirahat cukup serta menerapkan protokol kesehatan.

“Hal tersebut berguna agar tumbuh kembang anak tetap optimal, terhindar dari komplikasi jantung dan mengurangi risiko terpapar virus dan bakteri,” ucap Prof Ganesja menandaskan. (Tri Wahyuni)