Seri Monolog ‘Di Tepi Sejarah’ Bakal Tayang di Kanal Indonesiana

0

JAKARTA (Suara Karya): Seri monolog ‘Di Tepi Sejarah’ akan tayang di kanal budaya Indonesiana, yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek). Tayangan tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat sejarah Indonesia.

“Rangkaian monolog ini merupakan inisiatif kecil yang memberi makna baru perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan,” kata Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim dalam temu media secara daring, Senin (20/9/21).

Kanal Indonesiana diharapkan menjadi wadah untuk mempromosikan karya dan ekspresi budaya masyarakat Indonesia di mata dunia. Mengingat, hingga saat ini Indonesia belum memiliki media resmi yang menjadi wadah diplomasi budaya secara internasional.

Padahal, lanjut Nadiem, negara-negara maju sudah memiliki media kebudayaan terintegrasi yang menjadi sarana diplomasi budaya. Misalkan, Arirang TV yang didukung Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan dan BBC Culture yang didukung Sekretariat Negara Bidang Digital, Media dan Olahraga Inggris.

Seri Monolog ‘Di Tepi Sejarah’ sebenarnya telah tayang di Kanal Budaya Saya pada 18-25 Agustus 2021. Pementasan tersebut ditarik ke kanal Indonesiana guna mengenalkan sejarah Indonesia di masyarakat dan dunia internasional.

Kanal itu dapat diakses melalui siaran televisi jaringan Indihome saluran 200 (SD) dan 916 (HD) atau laman https://www.useetv.com/livetv/indonesiana atau indonesiana.tv.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemdikbudristek Hilmar Farid berharap publik dapat berpartisipasi dalam mengembangkan dan memanfaatkan Kanal Indonesiana.

“Kanal ini nantinya akan diakses satuan pendidikan dan komunitas untuk kegiatan nonton bareng seperti bioskop lokal. Ini pengembangan di masa depan,” ujarnya.

Untuk pengembangan keluar, Hilmat menjelaskan, Indonesiana dapat menjadi platform guna mempromosikan keragaman dan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia.

“Jika kita bisa melihat tayangan budaya dari berbagai negara, nantinya kanal budaya Indonesiana bisa dilihat di saluran TV kabel di luar negeri. Ini akan menjadi target kegiatan pada 2022-2023,” tuturnya.

Tentang seri monolog ‘Di Tepi Sejarah’, Hilmar menilai kontribusi sekecil apapun dalam perjuangan kemerdekaan juga sangat berarti. Tokoh-tokoh yang diangkat dalam pementasan mewakili semangat perjuangan seluruh komponen rakyat Indonesia kala itu, agar bisa keluar dari penjajahan.

“Semangat ini juga sangat kita butuhkan hari ini, ketika Indonesia tengah berjuang melawan pandemi,” kata Hilmar menandaskan.

Hal senada dikemukakan Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru, Ahmad Mahendra. Ia mengaku sebagai penggemar dari seri monolog tersebut. “Saya suka sekali nonton monolog yang berjudul ‘Sepinya Sepi’. Padahal, pementasan dilakukan hanya satu orang, tetapi bisa membuat orang terhanyut. Sedihnya gak habis-habis,” ujarnya.

Karena itu, Mahendra minta kepada Happy Salma selaku produser dari seri monolog tersebut untuk membuat kelanjutannya. Bila memungkinkan ada tayangan baru setiap minggunya. “Saya tahu, proses pembuatannya tidak mudah. Tetapi kalau berusaha, tak ada yang mustahil,” ujarnya.

Seri Monolog “Di Tepi Sejarah” berhasil mengulang kesuksesan Sandiwara Sastra yang gemilang. Seri tersebut tercipta hasil kolaborasi bersama Kemdikbudristek, Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media.

Pementasan itu menceritakan tokoh-tokoh yang ada di tepian sejarah, mereka yang mungkin tak pernah disebut namanya dan tak disadari kehadirannya dalam narasi besar sejarah bangsa Indonesia.

Meski begitu, paranpelaku terwebut seringkali adalah orang-orang yang berada di pusaran sejarah utama dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Apa yang mereka pikirkan, rasakan dan yang telah mereka alami diharapkan dapat menjadi jalan bagi kita untuk lebih memaknai arti kemerdekaan bangsa Indonesia yang tahun ini memasuki usia ke-76.

Seri Monolog “Di Tepi Sejarah” diprakarsai oleh Happy Salma dan Yulia Evina Bhara selaku produser dari Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media. Pentas tersebuy juga merupakan kerja sama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru, Kemdikbudristek.

Produser dari Titimangsa Foundation, Happy Salma, menambahkan, ide awal seri monolog Di Tepi Sejarah tercetuskan ketika ia sedang menggarap monolog “Aku Istri Munir” yang berkisah tentang Suciwati Munir dan naskahnya ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma.

“Monolog ‘Aku Istri Munir’ kala itu saya mainkan di ruang yang kecil, sebuah kamar dalam sebuah rumah. Memang niat awalnya pentas ini merupakan persembahan kecil saja bagi perjuangan Suciwati Munir.

Tapi banyak sekali yang setelah menonton pentas itu jadi menemukan jalan lain untuk merawat ingatan. Dari situ, saya jadi terinspirasi bahwa dengan situasi sekarang, banyak juga cara untuk tetap bergerak, berbuat dan semoga bermanfaat lewat panggung teater yang tidak kehilangan ruh panggungnya.

Dimainkan hanya oleh satu orang pemain agar terasa intim dan personal membawakan makna tentang kemanusiaan. Aktor-aktor yang terlibat juga adalah aktor handal yang bertalenta dan sungguh-sungguh juga disiplin.

“Dalam hal ini, saya berharap Di Tepi Sejarah dapat menjadi kaca mata lain bagi bangsa Indonesia melihat sejarahnya.” ungkapnya.

Ditambahkan Yulia Evina Bhara, Produser dari KawanKawan Media, Di Tepi Sejarah merupakan upaya untuk menyediakan media alternatif dalam pembelajaran sejarah di Indonesia.

“Seni pertunjukan dapat menyampaikan isu terkini maupun masa lampau dengan sudut pandang yang lain dan karena sifatnya yang lentur, dapat dikemas dalam bentuk lintas media. Komponen seni pertunjukan seperti visual dan bunyi diharapkan menjadi stimulus bagi penontonnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang kisah yang diangkat,” katanya.

Di Tepi Sejarah mengangkat 4 judul monolog; “Nusa Yang Hilang”, “Radio Ibu”, “Sepinya Sepi” dan “Amir, Akhir Sebuah Syair”. Keempatnya mewakili keanekaragaman wilayah dan melibatkan orang-orang di seluruh pelosok Indonesia.

Pertunjukan ini juga memberi sudut pandang baru untuk Indonesia melihat sejarahnya. Rangkaian monolog ini bekerjasama dengan Aktor, Sutradara Teater, Sutradara Visual, dan Penulis Naskah yang berbeda untuk setiap judul, dan tentu mumpuni di bidangnya. (Tri Wahyuni)